Langsung ke konten utama

REVISI UU KPK: PRO ATAU KONTRA

Permasalahan korupsi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum bisa diselesaikan oleh pemerintah sekaligus menjadi penyakit yang menggerogoti jalannya pembangunan di Indonesia.

 

Berdasarkan Corruption Perception Index (CPI) yang diterbitkan oleh Transparency International Indonesia (TII) pada tahun 2014, Indonesia menduduki peringkat ke-107 dari 175 negara di dunia . Ini mengindikasikan bahwa kasus korupsi bukanlah hal remeh temeh dan diperlukan tindakan tegas dalam memberantas korupsi.

 

Akan tetapi, pada bulan Oktober 2015 ini sepertinya kita dihadapkan oleh kenyataan yang cukup mengagetkan. DPR kembali menimbulkan kontroversi dengan mengajukan inisiatif revisi UU KPK No. 30 tahun 2002.

 

Sejumlah anggota DPR yang berasal dari PDIP, Partai Nasdem, Partai Golkar, PPP, Partai Hanura, dan PKB mengusulkan revisi UU KPK untuk dimasukkan dalam Prolegnas (Program Legislasi Nasional) tahun 2015.

Jelas dalam kebijakan ini menuai Pro dan Kontra di kalangan mahasiswa, dengan di revisinya UU KPK membuat kinerja KPK menjadi terhambat karena dalam proses penyadapan membutuhkan izin untuk melakukan penyadapan.

“Jika KPK di Revisi Privasi seseorang akan menjadi terjaga, mari kita lihat berkiblat di Amerika bahwasannya privasi sesorang adalah harga mati sehingga rahasia dan aib orang tidak akan di ketahui oleh orang lain” ujar Aditya Permadi seorang Mahasiswa Jurusan informatika Untag yang mendukung kebijakan DPR untuk merevisi UU KPK.

Memang benar Privasi seseorang merupakan hal yang cukup penting untuk di lindungi, namun tidak sedikit pula yang mengecam kebijakan tersebut termasuk saya pribadi.

Bukannya memperbaiki kinerja KPK, revisi UU KPK justru menjadi tidak independen. Izin penyadapan ini bisa memperlambat proses penyidikan.

Apalagi, tak seperti revisi skripsi yang nilai akademisnya bisa dipertanggungjawabkan, fraksi DPR yang mengajukan revisi ini tak pernah memberikan kajian akademis kenapa revisi UU KPK dibutuhkan.

#UDMAN FELANI



Komentar

Postingan populer dari blog ini

NADA BIOLA VIOLIN

Nada memiliki tangga nadanya, dari nada rendah hingga nada tinggi. Jika setiap nada itu tergabung dan teralun menjadi sebuah lirik yang mengalun dengan sentuhan syair yang mengiringinya, akan terbentuk nyanyian yang indah dan memiliki makna, tapi tiba-tiba nada itu berhenti. Nada itu tak lagi teralun dengan iringan biola dari tangan ini. Hanya tangis yang  terdengar sekarang ini. Tak ada lagi yang terlihat tersenyum dan tepuk tangan dari mereka. Isak tangis yang mengiringi dan kehawatiran yang tergambar dari raut wajah mereka. Sendu yang terpancar setiap detiknya, mendung yang selalu nampak bersama sang mentari dan redupnya bintang bersamaan dengan bulan yang hilang tertutup awan hitam yang melintasinya.   Aku ingin bisa berlari kembali, aku juga ingin bisa tersenyum bersama mereka dan mengalunkan nada biola ini bersama mereka *** Mendung masih terlihat disenja ini. Gemricik hujan pun masih mengiringi mentari yang tertutup oleh mendungn u...

Riau ku rindu

Mamakku rasa kita jauh dimata, Namun hati tak henti terkoneksikan layaknya wifi yang memiliki jaringan. Pulauku riau, yang tak bosanku rayuh dengan alam yang takkan pernah tergambarkan pada lukisan karya manusia. Darah riau yang mengalir pada diriku, menjadikan rindu ini akan ingin pulang. Mamakku, kita dipisahkan akan pulau yang menjadi pembatas pertemuan kontak fisik kita. Tak serayanya, kulupakan cium kening serta pelukan hangatmu. Kasihmu takkan terbendung dalam bentuk apapun setelah welas kasih dan kasih sayang sang pencipta yang menakdirkanku pada kandunganmu. Cintamu sunggu mulia, karna ikatan dunia yang mempertemukan kita. Ku meninggalkan Riauku untuk perjuanganku. Tanah Jawa menjadi pelarianku pada sebuah takdir yang sudah diutusnya. Mamak, semangatku layak soekarno junior pada diriku. Engkau adalah sekian alasan ku mengejar pendidikan pada kehidupanku. Setelah ku pandai pada hakekat hidupku, mamakku, kuakan pulang dengan merubah jubah para kaum peni...

INDIGO HADIR KEMBALI

  D ivisi Penerbitan Kampus UKM Fordimapelar UNTAG Surabaya merupakan divisi yang menampung kreativitas mahasiswa yang salah satunya telah menghadirkan mading dengan julukan INDIGO.       INDIGO merupakan singkatan dari Informasi Fordi Go , dimana mading tersebut mengangkat artikel teraktual dan karya sastra terpopuler yang disajikan khusus untuk mahasiswa UNTAG Surabaya.         Jum'at 3 Maret 2017,  tim mading divisi penerbitan kampus yang terdiri dari Riska (Ilmu Komunikasi), Mega (Sastra Inggris), Dian (Psikologi), dan Angga (Teknik Industri) memulai eksekusi proses pembuatan INDIGO dengan artikel bertopik Bahaya Mencari Pacar di Media Sosial dan beberapa kumpulan puisi serta cerpen.          Pada tahun ini, tim mading divisi penerbitan kampus menyebarluaskan karya madingnya sebagai bentuk eksistensi mahasiswa ilmiah di UKM Fordimapelar. Kini INDIGO dapat dilihat di papan mading tiap fakultas dan Gra...