Langsung ke konten utama

NADA BIOLA VIOLIN



Nada memiliki tangga nadanya, dari nada rendah hingga nada tinggi. Jika setiap nada itu tergabung dan teralun menjadi sebuah lirik yang mengalun dengan sentuhan syair yang mengiringinya, akan terbentuk nyanyian yang indah dan memiliki makna, tapi tiba-tiba nada itu berhenti.
Nada itu tak lagi teralun dengan iringan biola dari tangan ini. Hanya tangis yang  terdengar sekarang ini. Tak ada lagi yang terlihat tersenyum dan tepuk tangan dari mereka.
Isak tangis yang mengiringi dan kehawatiran yang tergambar dari raut wajah mereka. Sendu yang terpancar setiap detiknya, mendung yang selalu nampak bersama sang mentari dan redupnya bintang bersamaan dengan bulan yang hilang tertutup awan hitam yang melintasinya.
 Aku ingin bisa berlari kembali, aku juga ingin bisa tersenyum bersama mereka dan mengalunkan nada biola ini bersama mereka
***
Mendung masih terlihat disenja ini. Gemricik hujan pun masih mengiringi mentari yang tertutup oleh mendungn untuk digantikan oleh sang dewi malam menjelajahi dunia mimpi, hingga sang fajar kembali menyapa pagi dengan sejuta harapan.
“ Vio….!!” Terdengar suara yang tak asing lagi yang sering mendengung ditelingaku
“ Vio…. Ayo bangun nak.” Suara itu kian mendekat dan terus memanggil-manggil namaku. Ya itu adalah suara ibuku yang mencoba membangunkanku dari tidur soreku.
Namaku violin, panggil saja aku vio. Aku sekarang ini berusia 18 tahun, aku duduk dibanggu SMA tepatnya dikelas XI.
Aku adalah seorang gadis berkacamata, teman-temanku sering memanggilku si mata kodok tak jarang juga temanku sering memanggilku dengan julukan si ekor kuda karena rambutku yang sering dikepang dua, tapi itu semua bagiku tidak masalah, yang ada dengan mereka memaggilku seperti itu sering membuatku tertawa dan tersenyum.
 Aku merasa bekitu diperhatikan dan senyum lembut yang selalu terlukis diwajah ini karena mereka.
 Aku suka bermain biola. Bagiku biola adalah sahabatku, dia yang mengajariku tentang kegembiraan, keterharuan, kegagalan, bahkan biola juga yang mengajariku tentang cinta dan arti sebuah kehidupan.
Biola yang selalu memberikanku semangat untuk terus menjalani dan menjelajahi dunia ini.
Sejak usiaku 12 tahun aku sudah difonis menderita kanker darah, leokimia. Dokterpun telah memfonis umurku tidak lebih dari 3 tahun tapi Allah berkata lain sampai saat ini aku masih bisa menghirup udara segar dan aku masih mempu berjalan tegak bersama mereka.
Aku tak pernah bersedih dengan apa yang sedang aku derita sekarang ini. Aku masih mau melihat mereka tersenyum dan tertawa karena diriku.
Kenker  yang bersarang ditubuhku ini bukanlah alasan untukku menyerah menjelajahi mimpiku bersama orang-orang tercintaku.
***
“ Vio… vio..” terdengar suara dari luar pintu kamarku. Akupun bergegas membuka pintu itu. Ternyata sudah berdiri sosok pria yang tak asing lagi bagiku.
Dia adalah Rizal sahabatku sejak aku duduk dibangku SD dan sekaligus tetangga rumahku. Setiap malam seperti ini kami sering menghabiskan malam bersama sambil mendendangkan biola kami, kebetulan Rizal pun suka bermain biola.
“eh kamu Riz.” Jawabku dengan malasnya.
“ayo vio… aku tunggu diluar ya, kita main biola bareng.”
Ajaknya sembari menjauh meninggalkan kamarku. Akupun segera mengambil biolaku dan mengikuti Rizal yang lebih dulu berjalan didepanku tapi entah mengapa, tiba-tiba kaki ini terasa berat untuk digerakkan dan langkahku seperti terhenti dan kemudian “kedebuk”.
Rizal yang berjalan didepanku segerah menoleh kebelakang dan menemukanku tersungkur penuh darah dihidungku.
“ vio… kamu kenapa?” tanyanya sembari mendekatiku.
“ aku nggak tau riz, tiba-tiba saja kakiku susah buat digerakkan.” Jawabku dengan tubuh yang masih tersungkur.
“ hidungmu berdarah vio dan darahnya tidak berhenti-berhenti juga.” Kata rizal yang berusaha memopohku masuk kedalam kamarku. Rizal pun segera memanggil ibu dan ayahku yang berada diluar rumah yang sedang bersendagurau bersama.
“ Ibu, vio jatuh dan hidungnya berdarah tapi darahnya terus keluar dan tidak berhenti-berheti juga bu.” Jelas rizal yang tiba-tiba muncul didepan kedua orang tuaku.
Ibuku kelihatan terkejut mendengar apa yang terucap dari mulut rizal. Ibuku pun tanpa mengucapkan sepatah katapun segera masuk kedalam rumah untuk melihat keadaanku dan diikutin ayahku dari belakang.
Aku tak sadarkan diri saat itu. Rasanya tubuh ini seperti ringan tanpa ada beban. Aku mendengar suara ayah dan ibuku tapi aku tak melihat mereka, hanya suaranya yang dapat aku rasakan.
***
Pagi itu aku tidak mengerti, kenapa akhir-akhir ini tubuhku sulit untuk ku kendalikan. Rasa lemas dan kaku terus aku rasakan. Diperjalanan kesekolah pun aku terus memikirkan kejadian semalam.
“ Vio…” terdengar suara yang memanggilku. Lamunankupun terpecah oleh suara cempreng yang sering kali menggangu telingaku.
Ya, itu adalah suara teman satu kelasku. Dia adalah Risa. Suaranya sering membuatku tak konsen belajar saat dia sudah mulai bercerita tentang imajinasinya itu.
“ Eh, kamu kok ngelamun aja vio. Hayo lagi ngelamunin aku ya?” goda risa yang tanpa aku sadari sudah berada tepaat didepanku.
“ hemm… kasih tahu tidak ya..?” gurauku sembari berjalan lirih menuju kelas kami.
“ hay, kamu…” tiba-tiba terdengar lagi suara yang menghentikan langkahku tapi suara itu asing ditelingaku.
Aku pun segera menoleh ke belakang dan aku menemukan seorang pria berkaca mata berlari menghampiriku dengan senyumannya yang selalu membuat jantungku berhenti berdetak kala melihatnya.
Dia adalah kak Adien. Dia kakak kelasku dan sekaligus panitia perpisahan untuk kelas XII tahun ini. Jarang sekali dia mau berbicara atau bahkan menyapaku pun baru sekarang ini, hanya senyum yang sering dia torehkan saat berpapasan mata denganku.
“ hay kamu, maaf aku menggangu perjalanan kalian. Hemm… kamu vio anak XI pemain biola itu kan?” Tanya kak Adien sembari melempar senyum kecil kepadaku. Aku hanya menunduk malu dan memberikan isarat jika iya benar, aku adalah Vio anak XI pemain biola itu.
“ begini vio, minggu depan adalah perpisahan kami kelas XII dan aku dengar kamu jago main biola, jadi aku minta kamu tampil di acara perpisahan kami minggu depan, ya. Aku mohon.” Pintanya padaku. Aku masih diam. Larut bersama lamunanku sambil terus menatap mata kak Adien.
 “Kamu bisa latihan mulai besok bersama pengisi acara yang lainnya.” Lanjut kak Adien dengan mata yang penuh harapan kepadaku. Sontak aku tersadar dari lamunanku. Mendengar permintaan kak Adien, aku pun menyetujui permintaan kak Adien untuk tampil bermain biola pada perpisahan minggu depan.
“Trimakasih ya Vio. Aku tunggu besok diaula untuk latihan ya.” Kata kak Adien sembari melambaikan tangannya dan pergi menjauh meninggalkan aku dan Risa.
“ciyee… akhirnya sang pangeranku menjemputku dan memberikanku harapan.” Kata risa yang menggodaku dengan kata-katanya itu.
“apa sih kamu.” Jawabku sambil tersnyum dan berjalan masuk ke dalam kelas.
***
  “ kamu terakhir mimisan kapan vio?” Tanya dokter Marisa, dokter pribadiku dengan melihat hasil lep darahku.
“ satu tahun yang lalu dok kalau tidak salah, dan semalam saat aku jatuh, darah dari hidungku tidak mau berhenti dok sampai aku tidak sadarkan diri.” Jelasku kepada dokter Marisa.
“ begini vio. 7 tahun yang lalu kamu difonis tidak akan bertahan lebih dari 3 tahun karena leokimi mu sudah memasuki setadium akhir tapi keajaiban datang kepadamu, sampai sekarang kamu masih mampu bertahan tapi saya tidak yakin kamu akan mampu bertahan lagi karena stiap hari virus itu dengan cepat berkembang sehingga saat kamu terluka, darah yang keluar dari lukamu tidak cepat melakukan pembekuan, karena itu darahnya akan terus keluar. Kamu harus melakukan oprasi sumsum tulang belakang dan itu dari kakakmu.” Jelas dokter padaku
“ tapi dok, aku tidak bisa melakukan itu, kakakku sudah mendonorkan ginjalnya untukku dan sekarang dia hidup dengan satu ginjal. Kakakku pun baru melahirkan dok aku tidak akan melakukan itu.” Kataku dengan berlinang air mata.
“ dok, aku boleh meminta satu permintaan kepada dokter.?” Lanjutku sembari mengeluarkan secari kertas yang tertulis pesan.
“ iya, boleh vio.” Jawab dokter dengan menatapku penuh kesenduan.
“aku mohon ke dokter jangan beri tahu tentang keadaanku ini kepada keluargaku terutama ibu dan ayahku dok, aku tidak ingin melihat air mata dipipi mereka saat aku pergi nanti dan aku titip surat ini ke dokter jika terjadi apa-apa pada diriku, tolong dokter berikan surat ini untuk keluargaku.” Kataku dengan memberika surat itu kepada dokter Marisa.
“ iya, saya janji tidak akan memberitahukan keadaan ini kepada mereka dan saya akan sampaikan surat ini kelak untuk mereka.” Jawab dokter marisa yang tiba-tiba memelukku.
“Trimakasih dokter marisa.” Akupun melepaskan pelukan dokter marisa dan berlalu meninggalkan ruangannya.
***
Suara dokter Marisa terus mendengu di telingaku. Perkataannya membuatku terus berfikir. Aku masih tak menyangka apa ini batasnya? Gumanku lirih.
“ Violin…” tiba-tiba sudah ada Risa yang duduk berdampingan denganku. Aku pun segera menoleh kearahnya dan tersenyum membalas sapaannya.
“ kamu kenapa? Akhir-akhir ini kerjaanmu ngelamun terus.” Tanyanya padaku sambil menatapku dengan seribu pertanyaan,
“ tidak kenapa-kenapa kok. Lagi pengen ngelamun aja kaya kamu, biar dapat berimajinasi.” Gurauku untuk mengalihkan pertanyaan Risa yang mulai keluar keingin tahuannya.
“ oh iya., bukannya siang ini kamu ada latihan buat acara perpisahan dengan kak Adien?” Tanya risa yang mencoba mengingatkanku tentang janji yang telah aku buat bersama kak Adien kemarin.
“iya ya, aku hampir saja lupa. Aku pergi dulu ya.” Akupun segera berlari menjauh dari tempatku semula. Risa masih melihat kepergianku dan aku meninggalkannya dengan sesungging senyum dari bibirku.
Diaula sudah terlihat ramai dan aku menemukan kak Adien yang berdiri mengatur semua teman-teman yang akan mengisi acara diperpisahan kelas XII minggu depan.
“ kak, maaf aku telat.” Kataku terbata-bata menemui kak Adien yang berdiri didepan anak-anak paduan suara.
“ hemm.. iya vio, tidak apa-apa kok, lagian juga kamu baru ikut latihan.” Jawabnya dengan tersenyum tipis padaku.
“ ya sudah, kamu siap-siap ya. Sebentar lagi giliran kamu.” Lanjutnya sembari berjalan menjauh dariku.

Aku mulai mengalunkan biolaku dan semua orang seperti terhipnotis mendengar suara yang keluar dari biolaku. Kak Adien pun terus melihatku memainkan biola dengan penuh perasaan dan mata yang sendu.
Aku menikmati permainan biolaku siang itu. Permainanku siang itu menggambarkan kesedihanku saat ini. Aku tidak tahu apa aku akan bisa mengalunkan biola ini lagi, memberikan keindahan untuk semua orang dan bagaimana cara mereka nanti akan mengenangku saat aku telah pergi bersama nada-nada ini.
Prok… prok… prok… prok… semua orang pertepuk tangan dan bersorak saat aku berhenti mermainan biolaku. Aku tak menyangka semua orang menyukai permainanku.
“ vio.. benar kata teman-teman. Nada biola permainanmu memang mampu menghipnotis seuma orang yang mendengarkannya.” Kata kak Adien yang berjalan menghampiriku sambil bertepuk tangan dan tersenyum lebar kepadaku. Aku pun membalas senyuman itu dengan senyuman tipisku.
“oh iya vio, besok sepulang sekolah kamu ada acara tidak?” Tanya kak Adien yang berjalan berdampingan denganku.
“ besok bukannya ada latihan kak?” tanyaku kembali tanpa menjawab pertanyaan kak Adien.
“ besok itu tidak ada latihan vio.” Jawabnya dengan terus tersenyum tipis padaku.
“ oh.. tidak ada kak. Paling pulang sekolah aku langsung pulang kak.” Kataku dengan polosnya tanpa tahu maksud dari pertanyaan kak Adien.
“ ya sudah, besok pulang sekolah kita jalan sebentar ya. Aku janji deh bakal pulangin kamu sebelum jam 5 sore. Aku mau nunjukin tempat terindah ke kamu pasti kamu suka.” Ajaknya dengan mata yang berharap-harap dan dia terus tersenyum dengan senyum konyolnya.
“ oke deh kak.” Jawabku sambil tersenyum melihat tingkah kak Adien yang lucu itu.
“ besok aku tunggu diparkiran ya. Oh iya, dari tadi aku perhatikan kamu lesu banget vio dan wajah kamu pucat. Kamu sakit?” tanyanya sembari menyentuh keningku untuk memastikan aku baik-baik saja.
“ aku baik-baik saja kok kak. Lihat nih kak, gerakanku masih lincah kan?” Jawabku meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Diapun tertawa melihat tingkakku yang aneh itu. Akhirnya kami tertawa bersama, bersenda gurau bersama.
“ ya sudah kak, aku pulang dulu ya.” Aku berjalan meninggalkannya dan dia melambaikan tangannya untuk mengiringi kepergianku. Aku pun membalas lambaiannya dengan senyuman.
***
Malam ini cuaca begitu indah, bintang dan bulan yang hadir berdampingan dengan sinarnya yang terus terpancar menemaniku. Aku tidak tahu, apakah aku bisa menyaksikannya kembali. Aku seperti masuk dalam fikiranku sendiri, bergelut dengan seribu pertanyaan yang ada difikiranku.
“ hayo… ngelamun saja kerjaanmu.” Suara itu memecahkan lamunanku.  Terlihat Rizal yang sudah duduk disampingku sambil tersenyum nyengir yang membuatku kaget melihatnya.
“ kamu riz, aku kira setan. Habis senyum nyengirmu itu lho kayak hantu.” Kataku sedikit menggoda sahabatku itu.
“ lihat bintang-bintang itu, terlihat terang.” Kataku dengan menunjukan bintang-bintang itu pada Rizal.
“Riz, aku pengen banget seperti bintang siriuz, didalam keadaan apapun tetap bersinar. Sinarnya selalu terlihat terang, selalu memberikan harapan dan..” suaraku berhenti dan sedikit menghela nafas dalam-dalam. Tiba-tiba Rizal memotong pembicaraanku.
“ vio, tanpa perlu kamu jadi bintang. Kamu sudah menjadi bintang dalam kehidupan kami, seandainya kamu mau pergi kamu akan tetap jadi bintang dihati kamu.” Kata Rizal sembari menyunggingkan senyum tipis kepadaku. Suasana malam itu menjadi redup seakan-akan Rizal tahu apa yang akan terjadi padaku.
***
“ kak, memangnya kita mau kemana?” tanyaku pada kak Adien yang sedang mengendari motornya.
“ kamu pegangan saja ya, pasti kamu suka tempat ini.” Jawabnya tanpa sedikitpun menjawab pertanyaanku. Berselang satu jam perjalan kita berdua berhenti disebuah tempat yang begitu asing bagiku.
“ sini deh, ikut aku.” Ajaknya sembari memegang tanganku. Kami berjalan menyelusuri jalan yang tak pernah ku kenal. Tiba-tiba mataku terhenti disalah satu danau yang menarik berhatianku.
“ Taraaaaa…. Indah kan?” tanyanya dengan senyum yang mereka-reka. Aku hanya diam menyaksikan keindahan itu. Aku tak percaya masih ada tempat seindah ini tapi apa aku masih dapat melihatnya? Aku mulai terlibat pertanyaan dengan fikiranku sendiri.
“ vio, kamu menangis?” pertanyaan itu memecahkan seribu pertanyaan yang ada difikiranku.
“ aku bukannya menangis kak tapi aku hanya terharu, apa besok aku masih bisa melihat danau ini lagi?” Aku terdiam sesaat dan melihat kearah kak Adien yang dari tadi terus memperhatikanku.
“ kak, jika kakak tahu kapan kakak akan meninggal, apa yang akan kakak lakukan?” lanjutku dan pertanyaan itu seperti membuat kak Adien terdiam untuk beberapa saat.
“ kenapa kamu ngomong seolah-olah kamu akan pergi?” tanyanya kembali tanpa menjawab pertanyaanku. Aku hanya terdiam dan menunduk dihadapannya.
“ oke, kalau kamu tidak mau menjawabnya. Jika aku tahu kapan aku akan pergi. Aku akan melakukan sesuatu yang berarti untuk semuanya, untuk keluarga, orang-orang sekeliling dan untuk diriku sendiri.” Jelasnya sembil berjalan mendekat kebibir danau dan tersenyum lembut kearahku.
***
Kebersamaan itu tak berhenti didanau itu. Kebersamaan itu terus berlanjut. Kami sering berjalan berdua. Aku merasakan kenyamanan itu. Kami sering menghabiskan waktu bersama di aula sekolah atau pun di danau itu. Sampai suatu hari sebelum acara perpisahan itu berlangsung.
Sore itu ditengah perjalanan kami berhenti didanau itu. Ada sesuatu hal yang membuatku terkejut saat itu.
“ kak, kenapa tiba-tiba berhenti disini?” Tanyaku heran.
“ vio, aku tahu kita baru kenal tapi aku merasakan ada yang beda dari dirimu. Kamu unik, senyum kamu selalu membuat aku merasakan kehangatan dan setiap tingkah polahmu membuat aku tertawa. Aku suka dan aku sayang denganmu vio. Apa kamu mau jadi kekasihku?” akupun langsung terdiam dan aku tak mampu menjawab semua pernyataan yang terlontar dari bibir kak Adien.
“ iya aku tahu ini terlalu cepat tapi aku benar-benar takut akan kehilanganmu vio.” Lanjutnya dan tiba-tiba dia menarik tubuh ini dan mendaratkanku di tubuhnya.
Dia memelukku dan dia tak henti-hentinya mengucapkan kata sayang itu padaku tapi aku tak bisa menerimanya. Jika saja dia tahu yang sebenarnya. Apa dia masih mau menerima gadis penderita leokimia seperti aku ini dan aku tak ingin membuatnya menangis saat aku tinggalkan dia kelak dan aku juga tidak mau menambah daftar orang yang aku sayang menangisi kepergianku nantinya.
“ kak, maaf aku tidak bisa.” Akupun segera melepaskan pelukkannya dariku dan berlari meninggalkannya. Aku pun terus berlari dan tanpa sadar tiba-tiba darah itu keluar lagi dari hidungku dan membautku tak sdarkan diri.
***
“ vio.. vio..” suara itu seperti aku kenal, suara itu terus memanggilku. Saat aku tersadar aku sudah terbaring dirumah sakit.
“ ibu vio dimana?” tanyaku kepada ibuku yang duduk tepat di samping tempat aku terbaring.
“ kamu ada dirumah sakit, kamu pingsan nak. Ibukan sudah pernah bilang, kamu jangan sampai capek. Kondisimu dalam keadaan sakit.” Jelas ibuku dengan penuh air mata yang keluar dari matanya. Wajah ayahku pun terlihat mendung. Kakak dan sahabatku Rizal juga ada diruangan itu, wajah mereka bagaikan mendung yang akan segera turun hujan.
“ ibu, vio boleh minta sesuatu?” pintaku pada ibuku.
“ iya nak, kamu mau minta apa?” jawab ibuku seraya melihat selintas kearah ayahku yang berdiri disampingnya.
“ ibu hari ini ada acara perpisahan untuk kakak kelas vio dan vio ditunjuk untuk mengisi acara disana. Ijinkan vio bu untuk terakhir kalinya memainkan biola vio diacara perpisahan itu. Vio mohon bu.” Jelasku kepada ibuku yang tak kuasa lagi membendung air matanya sambil melihat dan menggenggam tanganku.
“ tapi vio..” suara ibuku tiba-tiba dihentikan ayah ku yang sengaja memotong benbicaraan ibuku.
“ iya vio, kami mengijinkanmu tapi ayah mohon kamu juga harus mengikuti apa yang diprintahkan dokter marisa untuk kesehatanmu nak.” Kata ayahku seraya tersenyum sendu menatapku. Aku hanya tersenyum mendengar perkataan ayahku dan mengisaratkan jika aku setuju dengan apa yang dikatakannya.
***
Diaula sekolah telah berjalan setengah acara untuk perpisahan kakak kelasku, semua siap untuk melakukan bagian acara yang telah disusun satu minggu sebelum pementasan.
“ din,, dimana vio? sebentar lagi giliran dia.” Tanya salah satu panitia kepada kak Adien.
“ aku yakin dia tidak akan datang.” Jawab kak Adien dengan wajah yang mendung dan penuh ketidak yakinan.
Citttttttt… suara rem mobil ayahku terdengar melengking. Akupun segera keluar dari mobil dan berlari sekuat tenaga untuk menuju aula.
“ vio hati-hati nak, nanti ayah dan ibu akan menyusul.” Teriak ibuku yang melihat ku berlalu meninggalkannya dan melepasku dengan tangis yang kulihat dari kejauhan sedang mengglayuti ibuku. Akupun membalas teriakkan ibuku dengan lambaian tanganku dan sesungging senyum tipis untuknya.
“ kak Adien…” teriakku dari depan pintu belakang panggung. Serentak semua orang yang ada disana langsung menoleh kearahku, terutama kak Adien. Dia segera menghampiriku dan memelukku.
“ maafkan aku vio. Aku tak akan memaksamu.” Katanya dan pelukan itu semakin erat.
“ hemm.. iya kak, kakak jangan menangis dong. Aku tidak ingin menambah daftar orang yang aku sayangi menangis karenaku.” Melepaskan pelukanya dan tersenyum untuknya. Aku merasa ini kali terakhir aku dapat bertemu dan merasakan pelukan dari kak Adien.
“ vio.. ayo naik panggung. Sekarang adalah giliranmu.” Kata seorang panitia panggung kepadaku. Aku pun segera naik keatas panggung dan berlalu meninggalkan kak Adien tanpa ada satu katapun terucap dari bibirku. Kak Adien pun terus melihat kepergianku dengan mata yang menyorotkan seribu pertanyaan yang tersimpan dalam fikirannya.
Hemmm.. menghela nafas sejenak. Akupun mulai mengalunkan biolaku. Diatas panggung aku melihat ibu dan ayahku berdiri perdampingan dengan kak Adien dan Rizal sahabatku. Semua orang menikmati permainanku. Aku melihat senyum yang indah pada diri mereka. Aku senang, aku gembira, sebelum kepergianku aku masih bisa membuat semua orang tersenyum dengan permainan biolaku.
“ dia gadis yang hebat bukan?” Tanya Rizal kepada kak Adien. Segera kak Adien melihat kearah Rizal yang berdiri disampingnya.
“ kamu siapa, kamu kenal vio?” Tanya kak Adien dengan memandang penasaran kearah Rizal.
“ aku Rizal sahabat dari vio. Aku kenal dia sejak kami duduk dibangku SD. Menurutku dia adalah gadis yang hebat dan kuat. Selama 7 tahun dia bertahan hidup untuk dirinya dan orang-orang yang dia sayangi. Dia menderita kanker darah, leokimia.” Serentak terlihat dari wajah kak Adien yang terkejut mendengar apa yang dikatakan Rizal tentang diriku.
“  malam itu vio cerita kepadaku, jika sejak 2 tahun yang lalu dia suka dengan seorang pria, dia adalah kakak kelasnya sendiri, kak Adien.” Sambil melihat kearah kak Adien.
“ Tapi dia takut untuk mencintainya, dia takut menambah daftar nama orang yang dia syangi menangis karena kepergiannya nanti.
Mungkin ini adalah puncak dia bertahan. Aku ikhlas melepas dia pergi. Dia akan jadi bintang untuk semua orang yang pernah mengenal dia.” lanjut Rizal dan tiba-tiba terlihat kak Adien menangis mendengar apa yang dikatakan Rizal.
Aku terus melantunkan biolaku sampai aku berhenti dinada biola terakhirku. Semua orang bertepuk tangan dan bersorak untukku. Ayah dan ibuku tersenyum padaku, tak ketinggalan kak Adien yang melihatku dengan penuh perasaan yang seperti ingin mendekat kearahku, aku melihat dia seperti menangis.
Aku pun tersenyum tipis pada seluruh tamu yang hadir dan menyaksikan permainan biolaku, lalu aku turun dari panggung tapi tiba-tiba mataku seperti rabun dan kakiku tak sanggup aku gerakkan.
Tubuhku terasa sakit dan darah itu keluar lagi dari hidungku. Aku terus berjalan dan akhirnya aku tak sanggup lagi memopoh tubuhku turun dan mendekat kearah keluargaku Prakkk…
“ vio.. vio… “
“ ayo bawa dia.”
“ vio bertahanlah nak.” Hanya suara-suara remang-remang yang dapat aku dengar dan suara itu semakin tak terdengar lagi ditelingaku, suara itu hilang.
***
Sore itu suasana terlihat mendung. Suasana wajah semua orang terlihat mendung mengalahkan mendung disore itu.
“ suadah bu, ikhlaskan kepergian vio.” Kata ayah sembari merangkul pundak ibu.
“ maaf ibu dan ayah vio.” kata dokter marisa ditempat yang tak jauh dari ayah dan ibu berdiri.
“ ini pesan terakhir yang vio tulis untuk kalian semua.” Sambil memberikan secarik kertas kepada ibuku. Ibupun segera membuka surat itu dan membacanya.
Untuk orang-orang yang aku sayang…..
Mungkin saat kali membaca surat ini, aku sudah ada disurga bersama malaikat-
Malaikat dan bidadari-bidadari surga.
Terimakasih untuk semua dukungan kalian
Terutama untukmu ibu
Kau selalu melindungiku, kau juga yang membuatku bertahan sampai saat ini
Kau selalu membuatku memiliki harapan saat aku takut akan kematian ini
Untuk ayah
Jagalah ibu untukku
Aku mencintaimu, maafkan aku jika aku tak bisa membuatmu bangga akan diriku
Kakak…
Terimakasih kau mau membagi ginjalmu untukku, jangan menangis
Aku selalu ada dihatimu
Untukmu sahabatku,
Terimakasih untukmu, kau yang selalu mendengarkan keluh kesahku
Kau juga bagian terindah dalam hidupku
Dan untukmu kak Adien
Maafkan aku yang telah membuatmu masuk dalam daftar orang yang
Menangis karenaku. Aku tak ingin membuatmu menangis dan terluka
Terimakasih kau telah memberikanku cinta sebelum aku pergi.
Jangang menagis…
Jangan menangis..
Aku akan tetap hidup dihati kalian, aku akan tetap menjadi bintang dihati kalian
Aku akan terus melantunkan nada untuk kalian.
Nada biola ini akan terus mengiringi hari-hari kalian. ^_^




VIOLIN
THE END

# Winda Prameswara 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Riau ku rindu

Mamakku rasa kita jauh dimata, Namun hati tak henti terkoneksikan layaknya wifi yang memiliki jaringan. Pulauku riau, yang tak bosanku rayuh dengan alam yang takkan pernah tergambarkan pada lukisan karya manusia. Darah riau yang mengalir pada diriku, menjadikan rindu ini akan ingin pulang. Mamakku, kita dipisahkan akan pulau yang menjadi pembatas pertemuan kontak fisik kita. Tak serayanya, kulupakan cium kening serta pelukan hangatmu. Kasihmu takkan terbendung dalam bentuk apapun setelah welas kasih dan kasih sayang sang pencipta yang menakdirkanku pada kandunganmu. Cintamu sunggu mulia, karna ikatan dunia yang mempertemukan kita. Ku meninggalkan Riauku untuk perjuanganku. Tanah Jawa menjadi pelarianku pada sebuah takdir yang sudah diutusnya. Mamak, semangatku layak soekarno junior pada diriku. Engkau adalah sekian alasan ku mengejar pendidikan pada kehidupanku. Setelah ku pandai pada hakekat hidupku, mamakku, kuakan pulang dengan merubah jubah para kaum peni...

INDIGO HADIR KEMBALI

  D ivisi Penerbitan Kampus UKM Fordimapelar UNTAG Surabaya merupakan divisi yang menampung kreativitas mahasiswa yang salah satunya telah menghadirkan mading dengan julukan INDIGO.       INDIGO merupakan singkatan dari Informasi Fordi Go , dimana mading tersebut mengangkat artikel teraktual dan karya sastra terpopuler yang disajikan khusus untuk mahasiswa UNTAG Surabaya.         Jum'at 3 Maret 2017,  tim mading divisi penerbitan kampus yang terdiri dari Riska (Ilmu Komunikasi), Mega (Sastra Inggris), Dian (Psikologi), dan Angga (Teknik Industri) memulai eksekusi proses pembuatan INDIGO dengan artikel bertopik Bahaya Mencari Pacar di Media Sosial dan beberapa kumpulan puisi serta cerpen.          Pada tahun ini, tim mading divisi penerbitan kampus menyebarluaskan karya madingnya sebagai bentuk eksistensi mahasiswa ilmiah di UKM Fordimapelar. Kini INDIGO dapat dilihat di papan mading tiap fakultas dan Gra...