Nada
memiliki tangga nadanya, dari nada rendah hingga nada tinggi. Jika setiap nada
itu tergabung dan teralun menjadi sebuah lirik yang mengalun dengan sentuhan
syair yang mengiringinya, akan terbentuk nyanyian yang indah dan memiliki
makna, tapi tiba-tiba nada itu berhenti.
Nada
itu tak lagi teralun dengan iringan biola dari tangan ini. Hanya tangis
yang terdengar sekarang ini. Tak ada lagi yang terlihat tersenyum
dan tepuk tangan dari mereka.
Isak
tangis yang mengiringi dan kehawatiran yang tergambar dari raut wajah mereka.
Sendu yang terpancar setiap detiknya, mendung yang selalu nampak bersama sang
mentari dan redupnya bintang bersamaan dengan bulan yang hilang tertutup awan
hitam yang melintasinya.
Aku ingin bisa berlari kembali, aku juga ingin
bisa tersenyum bersama mereka dan mengalunkan nada biola ini bersama mereka
***
Mendung
masih terlihat disenja ini. Gemricik hujan pun masih mengiringi mentari yang
tertutup oleh mendungn untuk digantikan oleh sang dewi malam menjelajahi dunia mimpi,
hingga sang fajar kembali menyapa pagi dengan sejuta harapan.
“
Vio….!!” Terdengar suara yang tak asing lagi yang sering mendengung ditelingaku
“
Vio…. Ayo bangun nak.” Suara itu kian mendekat dan terus memanggil-manggil
namaku. Ya itu adalah suara ibuku yang mencoba membangunkanku dari tidur soreku.
Namaku
violin, panggil saja aku vio. Aku sekarang ini berusia 18 tahun, aku duduk
dibanggu SMA tepatnya dikelas XI.
Aku
adalah seorang gadis berkacamata, teman-temanku sering memanggilku si mata
kodok tak jarang juga temanku sering memanggilku dengan julukan si ekor kuda
karena rambutku yang sering dikepang dua, tapi itu semua bagiku tidak masalah,
yang ada dengan mereka memaggilku seperti itu sering membuatku tertawa dan
tersenyum.
Aku merasa bekitu diperhatikan dan senyum
lembut yang selalu terlukis diwajah ini karena mereka.
Aku
suka bermain biola. Bagiku biola adalah sahabatku, dia yang mengajariku tentang
kegembiraan, keterharuan, kegagalan, bahkan biola juga yang mengajariku tentang
cinta dan arti sebuah kehidupan.
Biola
yang selalu memberikanku semangat untuk terus menjalani dan menjelajahi dunia
ini.
Sejak
usiaku 12 tahun aku sudah difonis menderita kanker darah, leokimia. Dokterpun
telah memfonis umurku tidak lebih dari 3 tahun tapi Allah berkata lain sampai
saat ini aku masih bisa menghirup udara segar dan aku masih mempu berjalan
tegak bersama mereka.
Aku tak
pernah bersedih dengan apa yang sedang aku derita sekarang ini. Aku masih mau
melihat mereka tersenyum dan tertawa karena diriku.
Kenker yang bersarang ditubuhku ini bukanlah alasan
untukku menyerah menjelajahi mimpiku bersama orang-orang tercintaku.
***
“ Vio…
vio..” terdengar suara dari luar pintu kamarku. Akupun bergegas membuka pintu
itu. Ternyata sudah berdiri sosok pria yang tak asing lagi bagiku.
Dia
adalah Rizal sahabatku sejak aku duduk dibangku SD dan sekaligus tetangga
rumahku. Setiap malam seperti ini kami sering menghabiskan malam bersama sambil
mendendangkan biola kami, kebetulan Rizal pun suka bermain biola.
“eh
kamu Riz.” Jawabku dengan malasnya.
“ayo
vio… aku tunggu diluar ya, kita main biola bareng.”
Ajaknya
sembari menjauh meninggalkan kamarku. Akupun segera mengambil biolaku dan
mengikuti Rizal yang lebih dulu berjalan didepanku tapi entah mengapa,
tiba-tiba kaki ini terasa berat untuk digerakkan dan langkahku seperti terhenti
dan kemudian “kedebuk”.
Rizal
yang berjalan didepanku segerah menoleh kebelakang dan menemukanku tersungkur
penuh darah dihidungku.
“
vio… kamu kenapa?” tanyanya sembari mendekatiku.
“
aku nggak tau riz, tiba-tiba saja kakiku susah buat digerakkan.” Jawabku dengan
tubuh yang masih tersungkur.
“
hidungmu berdarah vio dan darahnya tidak berhenti-berhenti juga.” Kata rizal
yang berusaha memopohku masuk kedalam kamarku. Rizal pun segera memanggil ibu
dan ayahku yang berada diluar rumah yang sedang bersendagurau bersama.
“
Ibu, vio jatuh dan hidungnya berdarah tapi darahnya terus keluar dan tidak
berhenti-berheti juga bu.” Jelas rizal yang tiba-tiba muncul didepan kedua
orang tuaku.
Ibuku
kelihatan terkejut mendengar apa yang terucap dari mulut rizal. Ibuku pun tanpa
mengucapkan sepatah katapun segera masuk kedalam rumah untuk melihat keadaanku
dan diikutin ayahku dari belakang.
Aku tak
sadarkan diri saat itu. Rasanya tubuh ini seperti ringan tanpa ada beban. Aku
mendengar suara ayah dan ibuku tapi aku tak melihat mereka, hanya suaranya yang
dapat aku rasakan.
***
Pagi
itu aku tidak mengerti, kenapa akhir-akhir ini tubuhku sulit untuk ku
kendalikan. Rasa lemas dan kaku terus aku rasakan. Diperjalanan kesekolah pun
aku terus memikirkan kejadian semalam.
“
Vio…” terdengar suara yang memanggilku. Lamunankupun terpecah oleh suara
cempreng yang sering kali menggangu telingaku.
Ya, itu
adalah suara teman satu kelasku. Dia adalah Risa. Suaranya sering membuatku tak
konsen belajar saat dia sudah mulai bercerita tentang imajinasinya itu.
“
Eh, kamu kok ngelamun aja vio. Hayo lagi ngelamunin aku ya?” goda risa yang
tanpa aku sadari sudah berada tepaat didepanku.
“
hemm… kasih tahu tidak ya..?” gurauku sembari berjalan lirih menuju kelas kami.
“
hay, kamu…” tiba-tiba terdengar lagi suara yang menghentikan langkahku tapi
suara itu asing ditelingaku.
Aku pun
segera menoleh ke belakang dan aku menemukan seorang pria berkaca mata berlari
menghampiriku dengan senyumannya yang selalu membuat jantungku berhenti
berdetak kala melihatnya.
Dia
adalah kak Adien. Dia kakak kelasku dan sekaligus panitia perpisahan untuk
kelas XII tahun ini. Jarang sekali dia mau berbicara atau bahkan menyapaku pun
baru sekarang ini, hanya senyum yang sering dia torehkan saat berpapasan mata
denganku.
“
hay kamu, maaf aku menggangu perjalanan kalian. Hemm… kamu vio anak XI pemain
biola itu kan?” Tanya kak Adien sembari melempar senyum kecil kepadaku. Aku
hanya menunduk malu dan memberikan isarat jika iya benar, aku adalah
Vio anak XI pemain biola itu.
“
begini vio, minggu depan adalah perpisahan kami kelas XII dan aku dengar kamu
jago main biola, jadi aku minta kamu tampil di acara perpisahan kami minggu depan,
ya. Aku mohon.” Pintanya padaku. Aku masih diam. Larut bersama lamunanku sambil
terus menatap mata kak Adien.
“Kamu
bisa latihan mulai besok bersama pengisi acara yang lainnya.” Lanjut kak Adien
dengan mata yang penuh harapan kepadaku. Sontak aku tersadar dari lamunanku.
Mendengar permintaan kak Adien, aku pun menyetujui permintaan kak Adien untuk
tampil bermain biola pada perpisahan minggu depan.
“Trimakasih
ya Vio. Aku tunggu besok diaula untuk latihan ya.” Kata kak Adien sembari
melambaikan tangannya dan pergi menjauh meninggalkan aku dan Risa.
“ciyee…
akhirnya sang pangeranku menjemputku dan memberikanku harapan.” Kata risa yang
menggodaku dengan kata-katanya itu.
“apa
sih kamu.” Jawabku sambil tersnyum dan berjalan masuk ke dalam kelas.
***
“ kamu
terakhir mimisan kapan vio?” Tanya dokter Marisa, dokter pribadiku dengan
melihat hasil lep darahku.
“
satu tahun yang lalu dok kalau tidak salah, dan semalam saat aku jatuh, darah
dari hidungku tidak mau berhenti dok sampai aku tidak sadarkan diri.” Jelasku
kepada dokter Marisa.
“
begini vio. 7 tahun yang lalu kamu difonis tidak akan bertahan lebih dari 3
tahun karena leokimi mu sudah memasuki setadium akhir tapi keajaiban datang
kepadamu, sampai sekarang kamu masih mampu bertahan tapi saya tidak yakin kamu
akan mampu bertahan lagi karena stiap hari virus itu dengan cepat berkembang
sehingga saat kamu terluka, darah yang keluar dari lukamu tidak cepat melakukan
pembekuan, karena itu darahnya akan terus keluar. Kamu harus melakukan oprasi
sumsum tulang belakang dan itu dari kakakmu.” Jelas dokter padaku
“
tapi dok, aku tidak bisa melakukan itu, kakakku sudah mendonorkan ginjalnya
untukku dan sekarang dia hidup dengan satu ginjal. Kakakku pun baru melahirkan
dok aku tidak akan melakukan itu.” Kataku dengan berlinang air mata.
“
dok, aku boleh meminta satu permintaan kepada dokter.?” Lanjutku sembari
mengeluarkan secari kertas yang tertulis pesan.
“
iya, boleh vio.” Jawab dokter dengan menatapku penuh kesenduan.
“aku
mohon ke dokter jangan beri tahu tentang keadaanku ini kepada keluargaku
terutama ibu dan ayahku dok, aku tidak ingin melihat air mata dipipi mereka
saat aku pergi nanti dan aku titip surat ini ke dokter jika terjadi apa-apa
pada diriku, tolong dokter berikan surat ini untuk keluargaku.” Kataku dengan
memberika surat itu kepada dokter Marisa.
“
iya, saya janji tidak akan memberitahukan keadaan ini kepada mereka dan saya
akan sampaikan surat ini kelak untuk mereka.” Jawab dokter marisa yang
tiba-tiba memelukku.
“Trimakasih
dokter marisa.” Akupun melepaskan pelukan dokter marisa dan berlalu
meninggalkan ruangannya.
***
Suara
dokter Marisa terus mendengu di telingaku. Perkataannya membuatku terus
berfikir. Aku masih tak menyangka apa ini
batasnya? Gumanku lirih.
“
Violin…” tiba-tiba sudah ada Risa yang duduk berdampingan denganku. Aku pun
segera menoleh kearahnya dan tersenyum membalas sapaannya.
“
kamu kenapa? Akhir-akhir ini kerjaanmu ngelamun terus.” Tanyanya padaku sambil
menatapku dengan seribu pertanyaan,
“
tidak kenapa-kenapa kok. Lagi pengen ngelamun aja kaya kamu, biar dapat
berimajinasi.” Gurauku untuk mengalihkan pertanyaan Risa yang mulai keluar
keingin tahuannya.
“
oh iya., bukannya siang ini kamu ada latihan buat acara perpisahan dengan kak
Adien?” Tanya risa yang mencoba mengingatkanku tentang janji yang telah aku
buat bersama kak Adien kemarin.
“iya
ya, aku hampir saja lupa. Aku pergi dulu ya.” Akupun segera berlari menjauh
dari tempatku semula. Risa masih melihat kepergianku dan aku meninggalkannya
dengan sesungging senyum dari bibirku.
Diaula
sudah terlihat ramai dan aku menemukan kak Adien yang berdiri mengatur semua
teman-teman yang akan mengisi acara diperpisahan kelas XII minggu depan.
“
kak, maaf aku telat.” Kataku terbata-bata menemui kak Adien yang berdiri
didepan anak-anak paduan suara.
“
hemm.. iya vio, tidak apa-apa kok, lagian juga kamu baru ikut latihan.”
Jawabnya dengan tersenyum tipis padaku.
“
ya sudah, kamu siap-siap ya. Sebentar lagi giliran kamu.” Lanjutnya sembari
berjalan menjauh dariku.
Aku mulai
mengalunkan biolaku dan semua orang seperti terhipnotis mendengar suara yang
keluar dari biolaku. Kak Adien pun terus melihatku memainkan biola dengan penuh
perasaan dan mata yang sendu.
Aku
menikmati permainan biolaku siang itu. Permainanku siang itu menggambarkan
kesedihanku saat ini. Aku tidak tahu apa aku akan bisa mengalunkan biola ini
lagi, memberikan keindahan untuk semua orang dan bagaimana cara mereka nanti
akan mengenangku saat aku telah pergi bersama nada-nada ini.
Prok…
prok… prok… prok… semua orang pertepuk tangan dan bersorak
saat aku berhenti mermainan biolaku. Aku tak menyangka semua orang menyukai
permainanku.
“
vio.. benar kata teman-teman. Nada biola permainanmu memang mampu menghipnotis
seuma orang yang mendengarkannya.” Kata kak Adien yang berjalan menghampiriku
sambil bertepuk tangan dan tersenyum lebar kepadaku. Aku pun membalas senyuman
itu dengan senyuman tipisku.
“oh
iya vio, besok sepulang sekolah kamu ada acara tidak?” Tanya kak Adien yang
berjalan berdampingan denganku.
“
besok bukannya ada latihan kak?” tanyaku kembali tanpa menjawab pertanyaan kak
Adien.
“
besok itu tidak ada latihan vio.” Jawabnya dengan terus tersenyum tipis padaku.
“
oh.. tidak ada kak. Paling pulang sekolah aku langsung pulang kak.” Kataku
dengan polosnya tanpa tahu maksud dari pertanyaan kak Adien.
“
ya sudah, besok pulang sekolah kita jalan sebentar ya. Aku janji deh bakal
pulangin kamu sebelum jam 5 sore. Aku mau nunjukin tempat terindah ke kamu
pasti kamu suka.” Ajaknya dengan mata yang berharap-harap dan dia terus
tersenyum dengan senyum konyolnya.
“
oke deh kak.” Jawabku sambil tersenyum melihat tingkah kak Adien yang lucu itu.
“
besok aku tunggu diparkiran ya. Oh iya, dari tadi aku perhatikan kamu lesu
banget vio dan wajah kamu pucat. Kamu sakit?” tanyanya sembari menyentuh
keningku untuk memastikan aku baik-baik saja.
“
aku baik-baik saja kok kak. Lihat nih kak, gerakanku masih lincah kan?” Jawabku
meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Diapun tertawa melihat tingkakku yang
aneh itu. Akhirnya kami tertawa bersama, bersenda gurau bersama.
“
ya sudah kak, aku pulang dulu ya.” Aku berjalan meninggalkannya dan dia
melambaikan tangannya untuk mengiringi kepergianku. Aku pun membalas
lambaiannya dengan senyuman.
***
Malam
ini cuaca begitu indah, bintang dan bulan yang hadir berdampingan dengan
sinarnya yang terus terpancar menemaniku. Aku tidak tahu, apakah aku bisa
menyaksikannya kembali. Aku seperti masuk dalam fikiranku sendiri, bergelut
dengan seribu pertanyaan yang ada difikiranku.
“
hayo… ngelamun saja kerjaanmu.” Suara itu memecahkan
lamunanku. Terlihat Rizal yang sudah duduk disampingku sambil
tersenyum nyengir yang membuatku kaget melihatnya.
“
kamu riz, aku kira setan. Habis senyum nyengirmu itu lho kayak hantu.” Kataku
sedikit menggoda sahabatku itu.
“
lihat bintang-bintang itu, terlihat terang.” Kataku dengan menunjukan
bintang-bintang itu pada Rizal.
“Riz,
aku pengen banget seperti bintang siriuz, didalam keadaan apapun tetap
bersinar. Sinarnya selalu terlihat terang, selalu memberikan harapan dan..”
suaraku berhenti dan sedikit menghela nafas dalam-dalam. Tiba-tiba Rizal
memotong pembicaraanku.
“
vio, tanpa perlu kamu jadi bintang. Kamu sudah menjadi bintang dalam kehidupan
kami, seandainya kamu mau pergi kamu akan tetap jadi bintang dihati kamu.” Kata
Rizal sembari menyunggingkan senyum tipis kepadaku. Suasana malam itu menjadi
redup seakan-akan Rizal tahu apa yang akan terjadi padaku.
***
“
kak, memangnya kita mau kemana?” tanyaku pada kak Adien yang sedang mengendari
motornya.
“
kamu pegangan saja ya, pasti kamu suka tempat ini.” Jawabnya tanpa sedikitpun
menjawab pertanyaanku. Berselang satu jam perjalan kita berdua berhenti
disebuah tempat yang begitu asing bagiku.
“
sini deh, ikut aku.” Ajaknya sembari memegang tanganku. Kami berjalan menyelusuri
jalan yang tak pernah ku kenal. Tiba-tiba mataku terhenti disalah satu danau
yang menarik berhatianku.
“
Taraaaaa…. Indah kan?” tanyanya dengan senyum yang mereka-reka. Aku hanya diam
menyaksikan keindahan itu. Aku tak percaya masih ada tempat seindah ini tapi apa aku
masih dapat melihatnya? Aku mulai terlibat pertanyaan dengan fikiranku
sendiri.
“
vio, kamu menangis?” pertanyaan itu memecahkan seribu pertanyaan yang ada
difikiranku.
“
aku bukannya menangis kak tapi aku hanya terharu, apa besok aku masih bisa
melihat danau ini lagi?” Aku terdiam sesaat dan melihat kearah kak Adien yang
dari tadi terus memperhatikanku.
“
kak, jika kakak tahu kapan kakak akan meninggal, apa yang akan kakak lakukan?”
lanjutku dan pertanyaan itu seperti membuat kak Adien terdiam untuk beberapa
saat.
“
kenapa kamu ngomong seolah-olah kamu akan pergi?” tanyanya kembali tanpa
menjawab pertanyaanku. Aku hanya terdiam dan menunduk dihadapannya.
“
oke, kalau kamu tidak mau menjawabnya. Jika aku tahu kapan aku akan pergi. Aku akan
melakukan sesuatu yang berarti untuk semuanya, untuk keluarga, orang-orang
sekeliling dan untuk diriku sendiri.” Jelasnya sembil berjalan mendekat kebibir
danau dan tersenyum lembut kearahku.
***
Kebersamaan
itu tak berhenti didanau itu. Kebersamaan itu terus berlanjut. Kami sering
berjalan berdua. Aku merasakan kenyamanan itu. Kami sering menghabiskan waktu
bersama di aula sekolah atau pun di danau itu. Sampai suatu hari sebelum acara
perpisahan itu berlangsung.
Sore
itu ditengah perjalanan kami berhenti didanau itu. Ada sesuatu hal yang
membuatku terkejut saat itu.
“
kak, kenapa tiba-tiba berhenti disini?” Tanyaku heran.
“
vio, aku tahu kita baru kenal tapi aku merasakan ada yang beda dari dirimu.
Kamu unik, senyum kamu selalu membuat aku merasakan kehangatan dan setiap
tingkah polahmu membuat aku tertawa. Aku suka dan aku sayang denganmu vio. Apa
kamu mau jadi kekasihku?” akupun langsung terdiam dan aku tak mampu menjawab
semua pernyataan yang terlontar dari bibir kak Adien.
“
iya aku tahu ini terlalu cepat tapi aku benar-benar takut akan kehilanganmu
vio.” Lanjutnya dan tiba-tiba dia menarik tubuh ini dan mendaratkanku di
tubuhnya.
Dia
memelukku dan dia tak henti-hentinya mengucapkan kata sayang itu padaku tapi
aku tak bisa menerimanya. Jika saja dia tahu yang sebenarnya. Apa dia masih mau
menerima gadis penderita leokimia seperti aku ini dan aku tak ingin membuatnya
menangis saat aku tinggalkan dia kelak dan aku juga tidak mau menambah daftar
orang yang aku sayang menangisi kepergianku nantinya.
“
kak, maaf aku tidak bisa.” Akupun segera melepaskan pelukkannya dariku dan
berlari meninggalkannya. Aku pun terus berlari dan tanpa sadar tiba-tiba darah
itu keluar lagi dari hidungku dan membautku tak sdarkan diri.
***
“
vio.. vio..” suara itu seperti aku kenal, suara itu terus memanggilku. Saat aku
tersadar aku sudah terbaring dirumah sakit.
“
ibu vio dimana?” tanyaku kepada ibuku yang duduk tepat di samping tempat aku
terbaring.
“
kamu ada dirumah sakit, kamu pingsan nak. Ibukan sudah pernah bilang, kamu jangan
sampai capek. Kondisimu dalam keadaan sakit.” Jelas ibuku dengan penuh air mata
yang keluar dari matanya. Wajah ayahku pun terlihat mendung. Kakak dan
sahabatku Rizal juga ada diruangan itu, wajah mereka bagaikan mendung yang akan
segera turun hujan.
“
ibu, vio boleh minta sesuatu?” pintaku pada ibuku.
“
iya nak, kamu mau minta apa?” jawab ibuku seraya melihat selintas kearah ayahku
yang berdiri disampingnya.
“
ibu hari ini ada acara perpisahan untuk kakak kelas vio dan vio ditunjuk untuk
mengisi acara disana. Ijinkan vio bu untuk terakhir kalinya memainkan biola vio
diacara perpisahan itu. Vio mohon bu.” Jelasku kepada ibuku yang tak kuasa lagi
membendung air matanya sambil melihat dan menggenggam tanganku.
“
tapi vio..” suara ibuku tiba-tiba dihentikan ayah ku yang sengaja memotong
benbicaraan ibuku.
“
iya vio, kami mengijinkanmu tapi ayah mohon kamu juga harus mengikuti apa yang
diprintahkan dokter marisa untuk kesehatanmu nak.” Kata ayahku seraya tersenyum
sendu menatapku. Aku hanya tersenyum mendengar perkataan ayahku dan
mengisaratkan jika aku setuju dengan apa yang dikatakannya.
***
Diaula
sekolah telah berjalan setengah acara untuk perpisahan kakak kelasku, semua
siap untuk melakukan bagian acara yang telah disusun satu minggu sebelum
pementasan.
“
din,, dimana vio? sebentar lagi giliran dia.” Tanya salah satu panitia kepada
kak Adien.
“
aku yakin dia tidak akan datang.” Jawab kak Adien dengan wajah yang mendung dan
penuh ketidak yakinan.
Citttttttt… suara
rem mobil ayahku terdengar melengking. Akupun segera keluar dari mobil dan
berlari sekuat tenaga untuk menuju aula.
“
vio hati-hati nak, nanti ayah dan ibu akan menyusul.” Teriak ibuku yang melihat
ku berlalu meninggalkannya dan melepasku dengan tangis yang kulihat dari
kejauhan sedang mengglayuti ibuku. Akupun membalas teriakkan ibuku dengan
lambaian tanganku dan sesungging senyum tipis untuknya.
“
kak Adien…” teriakku dari depan pintu belakang panggung. Serentak semua orang
yang ada disana langsung menoleh kearahku, terutama kak Adien. Dia segera
menghampiriku dan memelukku.
“
maafkan aku vio. Aku tak akan memaksamu.” Katanya dan pelukan itu semakin erat.
“
hemm.. iya kak, kakak jangan menangis dong. Aku tidak ingin menambah daftar
orang yang aku sayangi menangis karenaku.” Melepaskan pelukanya dan tersenyum
untuknya. Aku merasa ini kali terakhir aku dapat bertemu dan merasakan pelukan
dari kak Adien.
“
vio.. ayo naik panggung. Sekarang adalah giliranmu.” Kata seorang panitia panggung
kepadaku. Aku pun segera naik keatas panggung dan berlalu meninggalkan kak
Adien tanpa ada satu katapun terucap dari bibirku. Kak Adien pun terus melihat
kepergianku dengan mata yang menyorotkan seribu pertanyaan yang tersimpan dalam
fikirannya.
Hemmm.. menghela
nafas sejenak. Akupun mulai mengalunkan biolaku. Diatas panggung aku melihat
ibu dan ayahku berdiri perdampingan dengan kak Adien dan Rizal sahabatku. Semua
orang menikmati permainanku. Aku melihat senyum yang indah pada diri mereka.
Aku senang, aku gembira, sebelum kepergianku aku masih bisa membuat semua orang
tersenyum dengan permainan biolaku.
“
dia gadis yang hebat bukan?” Tanya Rizal kepada kak Adien. Segera kak Adien
melihat kearah Rizal yang berdiri disampingnya.
“
kamu siapa, kamu kenal vio?” Tanya kak Adien dengan memandang penasaran kearah
Rizal.
“
aku Rizal sahabat dari vio. Aku kenal dia sejak kami duduk dibangku SD.
Menurutku dia adalah gadis yang hebat dan kuat. Selama 7 tahun dia bertahan
hidup untuk dirinya dan orang-orang yang dia sayangi. Dia menderita kanker
darah, leokimia.” Serentak terlihat dari wajah kak Adien yang terkejut
mendengar apa yang dikatakan Rizal tentang diriku.
“ malam
itu vio cerita kepadaku, jika sejak 2 tahun yang lalu dia suka dengan seorang
pria, dia adalah kakak kelasnya sendiri, kak Adien.” Sambil melihat kearah kak
Adien.
“
Tapi dia takut untuk mencintainya, dia takut menambah daftar nama orang yang
dia syangi menangis karena kepergiannya nanti.
Mungkin
ini adalah puncak dia bertahan. Aku ikhlas melepas dia pergi. Dia akan jadi
bintang untuk semua orang yang pernah mengenal dia.” lanjut Rizal dan tiba-tiba
terlihat kak Adien menangis mendengar apa yang dikatakan Rizal.
Aku
terus melantunkan biolaku sampai aku berhenti dinada biola terakhirku. Semua orang
bertepuk tangan dan bersorak untukku. Ayah dan ibuku tersenyum padaku, tak
ketinggalan kak Adien yang melihatku dengan penuh perasaan yang seperti ingin
mendekat kearahku, aku melihat dia seperti menangis.
Aku
pun tersenyum tipis pada seluruh tamu yang hadir dan menyaksikan permainan
biolaku, lalu aku turun dari panggung tapi tiba-tiba mataku seperti rabun dan
kakiku tak sanggup aku gerakkan.
Tubuhku
terasa sakit dan darah itu keluar lagi dari hidungku. Aku terus berjalan dan
akhirnya aku tak sanggup lagi memopoh tubuhku turun dan mendekat kearah
keluargaku Prakkk…
“
vio.. vio… “
“
ayo bawa dia.”
“
vio bertahanlah nak.” Hanya suara-suara remang-remang yang dapat aku dengar dan
suara itu semakin tak terdengar lagi ditelingaku, suara itu hilang.
***
Sore
itu suasana terlihat mendung. Suasana wajah semua orang terlihat mendung
mengalahkan mendung disore itu.
“
suadah bu, ikhlaskan kepergian vio.” Kata ayah sembari merangkul pundak ibu.
“
maaf ibu dan ayah vio.” kata dokter marisa ditempat yang tak jauh dari ayah dan
ibu berdiri.
“
ini pesan terakhir yang vio tulis untuk kalian semua.” Sambil memberikan
secarik kertas kepada ibuku. Ibupun segera membuka surat itu dan membacanya.
Untuk
orang-orang yang aku sayang…..
Mungkin
saat kali membaca surat ini, aku sudah ada disurga bersama malaikat-
Malaikat
dan bidadari-bidadari surga.
Terimakasih
untuk semua dukungan kalian
Terutama
untukmu ibu
Kau
selalu melindungiku, kau juga yang membuatku bertahan sampai saat ini
Kau
selalu membuatku memiliki harapan saat aku takut akan kematian ini
Untuk
ayah
Jagalah
ibu untukku
Aku
mencintaimu, maafkan aku jika aku tak bisa membuatmu bangga akan diriku
Kakak…
Terimakasih
kau mau membagi ginjalmu untukku, jangan menangis
Aku
selalu ada dihatimu
Untukmu
sahabatku,
Terimakasih
untukmu, kau yang selalu mendengarkan keluh kesahku
Kau
juga bagian terindah dalam hidupku
Dan
untukmu kak Adien
Maafkan
aku yang telah membuatmu masuk dalam daftar orang yang
Menangis
karenaku. Aku tak ingin membuatmu menangis dan terluka
Terimakasih
kau telah memberikanku cinta sebelum aku pergi.
Jangang
menagis…
Jangan
menangis..
Aku
akan tetap hidup dihati kalian, aku akan tetap menjadi bintang dihati kalian
Aku
akan terus melantunkan nada untuk kalian.
Nada
biola ini akan terus mengiringi hari-hari kalian. ^_^
VIOLIN
THE END
# Winda Prameswara
Nada
memiliki tangga nadanya, dari nada rendah hingga nada tinggi. Jika setiap nada
itu tergabung dan teralun menjadi sebuah lirik yang mengalun dengan sentuhan
syair yang mengiringinya, akan terbentuk nyanyian yang indah dan memiliki
makna, tapi tiba-tiba nada itu berhenti.
Nada
itu tak lagi teralun dengan iringan biola dari tangan ini. Hanya tangis
yang terdengar sekarang ini. Tak ada lagi yang terlihat tersenyum
dan tepuk tangan dari mereka.
Isak
tangis yang mengiringi dan kehawatiran yang tergambar dari raut wajah mereka.
Sendu yang terpancar setiap detiknya, mendung yang selalu nampak bersama sang
mentari dan redupnya bintang bersamaan dengan bulan yang hilang tertutup awan
hitam yang melintasinya.
Aku ingin bisa berlari kembali, aku juga ingin
bisa tersenyum bersama mereka dan mengalunkan nada biola ini bersama mereka
***
Mendung
masih terlihat disenja ini. Gemricik hujan pun masih mengiringi mentari yang
tertutup oleh mendungn untuk digantikan oleh sang dewi malam menjelajahi dunia mimpi,
hingga sang fajar kembali menyapa pagi dengan sejuta harapan.
“
Vio….!!” Terdengar suara yang tak asing lagi yang sering mendengung ditelingaku
“
Vio…. Ayo bangun nak.” Suara itu kian mendekat dan terus memanggil-manggil
namaku. Ya itu adalah suara ibuku yang mencoba membangunkanku dari tidur soreku.
Namaku
violin, panggil saja aku vio. Aku sekarang ini berusia 18 tahun, aku duduk
dibanggu SMA tepatnya dikelas XI.
Aku
adalah seorang gadis berkacamata, teman-temanku sering memanggilku si mata
kodok tak jarang juga temanku sering memanggilku dengan julukan si ekor kuda
karena rambutku yang sering dikepang dua, tapi itu semua bagiku tidak masalah,
yang ada dengan mereka memaggilku seperti itu sering membuatku tertawa dan
tersenyum.
Aku merasa bekitu diperhatikan dan senyum
lembut yang selalu terlukis diwajah ini karena mereka.
Aku
suka bermain biola. Bagiku biola adalah sahabatku, dia yang mengajariku tentang
kegembiraan, keterharuan, kegagalan, bahkan biola juga yang mengajariku tentang
cinta dan arti sebuah kehidupan.
Biola
yang selalu memberikanku semangat untuk terus menjalani dan menjelajahi dunia
ini.
Sejak
usiaku 12 tahun aku sudah difonis menderita kanker darah, leokimia. Dokterpun
telah memfonis umurku tidak lebih dari 3 tahun tapi Allah berkata lain sampai
saat ini aku masih bisa menghirup udara segar dan aku masih mempu berjalan
tegak bersama mereka.
Aku tak
pernah bersedih dengan apa yang sedang aku derita sekarang ini. Aku masih mau
melihat mereka tersenyum dan tertawa karena diriku.
Kenker yang bersarang ditubuhku ini bukanlah alasan
untukku menyerah menjelajahi mimpiku bersama orang-orang tercintaku.
***
“ Vio…
vio..” terdengar suara dari luar pintu kamarku. Akupun bergegas membuka pintu
itu. Ternyata sudah berdiri sosok pria yang tak asing lagi bagiku.
Dia
adalah Rizal sahabatku sejak aku duduk dibangku SD dan sekaligus tetangga
rumahku. Setiap malam seperti ini kami sering menghabiskan malam bersama sambil
mendendangkan biola kami, kebetulan Rizal pun suka bermain biola.
“eh
kamu Riz.” Jawabku dengan malasnya.
“ayo
vio… aku tunggu diluar ya, kita main biola bareng.”
Ajaknya
sembari menjauh meninggalkan kamarku. Akupun segera mengambil biolaku dan
mengikuti Rizal yang lebih dulu berjalan didepanku tapi entah mengapa,
tiba-tiba kaki ini terasa berat untuk digerakkan dan langkahku seperti terhenti
dan kemudian “kedebuk”.
Rizal
yang berjalan didepanku segerah menoleh kebelakang dan menemukanku tersungkur
penuh darah dihidungku.
“
vio… kamu kenapa?” tanyanya sembari mendekatiku.
“
aku nggak tau riz, tiba-tiba saja kakiku susah buat digerakkan.” Jawabku dengan
tubuh yang masih tersungkur.
“
hidungmu berdarah vio dan darahnya tidak berhenti-berhenti juga.” Kata rizal
yang berusaha memopohku masuk kedalam kamarku. Rizal pun segera memanggil ibu
dan ayahku yang berada diluar rumah yang sedang bersendagurau bersama.
“
Ibu, vio jatuh dan hidungnya berdarah tapi darahnya terus keluar dan tidak
berhenti-berheti juga bu.” Jelas rizal yang tiba-tiba muncul didepan kedua
orang tuaku.
Ibuku
kelihatan terkejut mendengar apa yang terucap dari mulut rizal. Ibuku pun tanpa
mengucapkan sepatah katapun segera masuk kedalam rumah untuk melihat keadaanku
dan diikutin ayahku dari belakang.
Aku tak
sadarkan diri saat itu. Rasanya tubuh ini seperti ringan tanpa ada beban. Aku
mendengar suara ayah dan ibuku tapi aku tak melihat mereka, hanya suaranya yang
dapat aku rasakan.
***
Pagi
itu aku tidak mengerti, kenapa akhir-akhir ini tubuhku sulit untuk ku
kendalikan. Rasa lemas dan kaku terus aku rasakan. Diperjalanan kesekolah pun
aku terus memikirkan kejadian semalam.
“
Vio…” terdengar suara yang memanggilku. Lamunankupun terpecah oleh suara
cempreng yang sering kali menggangu telingaku.
Ya, itu
adalah suara teman satu kelasku. Dia adalah Risa. Suaranya sering membuatku tak
konsen belajar saat dia sudah mulai bercerita tentang imajinasinya itu.
“
Eh, kamu kok ngelamun aja vio. Hayo lagi ngelamunin aku ya?” goda risa yang
tanpa aku sadari sudah berada tepaat didepanku.
“
hemm… kasih tahu tidak ya..?” gurauku sembari berjalan lirih menuju kelas kami.
“
hay, kamu…” tiba-tiba terdengar lagi suara yang menghentikan langkahku tapi
suara itu asing ditelingaku.
Aku pun
segera menoleh ke belakang dan aku menemukan seorang pria berkaca mata berlari
menghampiriku dengan senyumannya yang selalu membuat jantungku berhenti
berdetak kala melihatnya.
Dia
adalah kak Adien. Dia kakak kelasku dan sekaligus panitia perpisahan untuk
kelas XII tahun ini. Jarang sekali dia mau berbicara atau bahkan menyapaku pun
baru sekarang ini, hanya senyum yang sering dia torehkan saat berpapasan mata
denganku.
“
hay kamu, maaf aku menggangu perjalanan kalian. Hemm… kamu vio anak XI pemain
biola itu kan?” Tanya kak Adien sembari melempar senyum kecil kepadaku. Aku
hanya menunduk malu dan memberikan isarat jika iya benar, aku adalah
Vio anak XI pemain biola itu.
“
begini vio, minggu depan adalah perpisahan kami kelas XII dan aku dengar kamu
jago main biola, jadi aku minta kamu tampil di acara perpisahan kami minggu depan,
ya. Aku mohon.” Pintanya padaku. Aku masih diam. Larut bersama lamunanku sambil
terus menatap mata kak Adien.
“Kamu
bisa latihan mulai besok bersama pengisi acara yang lainnya.” Lanjut kak Adien
dengan mata yang penuh harapan kepadaku. Sontak aku tersadar dari lamunanku.
Mendengar permintaan kak Adien, aku pun menyetujui permintaan kak Adien untuk
tampil bermain biola pada perpisahan minggu depan.
“Trimakasih
ya Vio. Aku tunggu besok diaula untuk latihan ya.” Kata kak Adien sembari
melambaikan tangannya dan pergi menjauh meninggalkan aku dan Risa.
“ciyee…
akhirnya sang pangeranku menjemputku dan memberikanku harapan.” Kata risa yang
menggodaku dengan kata-katanya itu.
“apa
sih kamu.” Jawabku sambil tersnyum dan berjalan masuk ke dalam kelas.
***
“ kamu
terakhir mimisan kapan vio?” Tanya dokter Marisa, dokter pribadiku dengan
melihat hasil lep darahku.
“
satu tahun yang lalu dok kalau tidak salah, dan semalam saat aku jatuh, darah
dari hidungku tidak mau berhenti dok sampai aku tidak sadarkan diri.” Jelasku
kepada dokter Marisa.
“
begini vio. 7 tahun yang lalu kamu difonis tidak akan bertahan lebih dari 3
tahun karena leokimi mu sudah memasuki setadium akhir tapi keajaiban datang
kepadamu, sampai sekarang kamu masih mampu bertahan tapi saya tidak yakin kamu
akan mampu bertahan lagi karena stiap hari virus itu dengan cepat berkembang
sehingga saat kamu terluka, darah yang keluar dari lukamu tidak cepat melakukan
pembekuan, karena itu darahnya akan terus keluar. Kamu harus melakukan oprasi
sumsum tulang belakang dan itu dari kakakmu.” Jelas dokter padaku
“
tapi dok, aku tidak bisa melakukan itu, kakakku sudah mendonorkan ginjalnya
untukku dan sekarang dia hidup dengan satu ginjal. Kakakku pun baru melahirkan
dok aku tidak akan melakukan itu.” Kataku dengan berlinang air mata.
“
dok, aku boleh meminta satu permintaan kepada dokter.?” Lanjutku sembari
mengeluarkan secari kertas yang tertulis pesan.
“
iya, boleh vio.” Jawab dokter dengan menatapku penuh kesenduan.
“aku
mohon ke dokter jangan beri tahu tentang keadaanku ini kepada keluargaku
terutama ibu dan ayahku dok, aku tidak ingin melihat air mata dipipi mereka
saat aku pergi nanti dan aku titip surat ini ke dokter jika terjadi apa-apa
pada diriku, tolong dokter berikan surat ini untuk keluargaku.” Kataku dengan
memberika surat itu kepada dokter Marisa.
“
iya, saya janji tidak akan memberitahukan keadaan ini kepada mereka dan saya
akan sampaikan surat ini kelak untuk mereka.” Jawab dokter marisa yang
tiba-tiba memelukku.
“Trimakasih
dokter marisa.” Akupun melepaskan pelukan dokter marisa dan berlalu
meninggalkan ruangannya.
***
Suara
dokter Marisa terus mendengu di telingaku. Perkataannya membuatku terus
berfikir. Aku masih tak menyangka apa ini
batasnya? Gumanku lirih.
“
Violin…” tiba-tiba sudah ada Risa yang duduk berdampingan denganku. Aku pun
segera menoleh kearahnya dan tersenyum membalas sapaannya.
“
kamu kenapa? Akhir-akhir ini kerjaanmu ngelamun terus.” Tanyanya padaku sambil
menatapku dengan seribu pertanyaan,
“
tidak kenapa-kenapa kok. Lagi pengen ngelamun aja kaya kamu, biar dapat
berimajinasi.” Gurauku untuk mengalihkan pertanyaan Risa yang mulai keluar
keingin tahuannya.
“
oh iya., bukannya siang ini kamu ada latihan buat acara perpisahan dengan kak
Adien?” Tanya risa yang mencoba mengingatkanku tentang janji yang telah aku
buat bersama kak Adien kemarin.
“iya
ya, aku hampir saja lupa. Aku pergi dulu ya.” Akupun segera berlari menjauh
dari tempatku semula. Risa masih melihat kepergianku dan aku meninggalkannya
dengan sesungging senyum dari bibirku.
Diaula
sudah terlihat ramai dan aku menemukan kak Adien yang berdiri mengatur semua
teman-teman yang akan mengisi acara diperpisahan kelas XII minggu depan.
“
kak, maaf aku telat.” Kataku terbata-bata menemui kak Adien yang berdiri
didepan anak-anak paduan suara.
“
hemm.. iya vio, tidak apa-apa kok, lagian juga kamu baru ikut latihan.”
Jawabnya dengan tersenyum tipis padaku.
“
ya sudah, kamu siap-siap ya. Sebentar lagi giliran kamu.” Lanjutnya sembari
berjalan menjauh dariku.
Aku mulai
mengalunkan biolaku dan semua orang seperti terhipnotis mendengar suara yang
keluar dari biolaku. Kak Adien pun terus melihatku memainkan biola dengan penuh
perasaan dan mata yang sendu.
Aku
menikmati permainan biolaku siang itu. Permainanku siang itu menggambarkan
kesedihanku saat ini. Aku tidak tahu apa aku akan bisa mengalunkan biola ini
lagi, memberikan keindahan untuk semua orang dan bagaimana cara mereka nanti
akan mengenangku saat aku telah pergi bersama nada-nada ini.
Prok…
prok… prok… prok… semua orang pertepuk tangan dan bersorak
saat aku berhenti mermainan biolaku. Aku tak menyangka semua orang menyukai
permainanku.
“
vio.. benar kata teman-teman. Nada biola permainanmu memang mampu menghipnotis
seuma orang yang mendengarkannya.” Kata kak Adien yang berjalan menghampiriku
sambil bertepuk tangan dan tersenyum lebar kepadaku. Aku pun membalas senyuman
itu dengan senyuman tipisku.
“oh
iya vio, besok sepulang sekolah kamu ada acara tidak?” Tanya kak Adien yang
berjalan berdampingan denganku.
“
besok bukannya ada latihan kak?” tanyaku kembali tanpa menjawab pertanyaan kak
Adien.
“
besok itu tidak ada latihan vio.” Jawabnya dengan terus tersenyum tipis padaku.
“
oh.. tidak ada kak. Paling pulang sekolah aku langsung pulang kak.” Kataku
dengan polosnya tanpa tahu maksud dari pertanyaan kak Adien.
“
ya sudah, besok pulang sekolah kita jalan sebentar ya. Aku janji deh bakal
pulangin kamu sebelum jam 5 sore. Aku mau nunjukin tempat terindah ke kamu
pasti kamu suka.” Ajaknya dengan mata yang berharap-harap dan dia terus
tersenyum dengan senyum konyolnya.
“
oke deh kak.” Jawabku sambil tersenyum melihat tingkah kak Adien yang lucu itu.
“
besok aku tunggu diparkiran ya. Oh iya, dari tadi aku perhatikan kamu lesu
banget vio dan wajah kamu pucat. Kamu sakit?” tanyanya sembari menyentuh
keningku untuk memastikan aku baik-baik saja.
“
aku baik-baik saja kok kak. Lihat nih kak, gerakanku masih lincah kan?” Jawabku
meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Diapun tertawa melihat tingkakku yang
aneh itu. Akhirnya kami tertawa bersama, bersenda gurau bersama.
“
ya sudah kak, aku pulang dulu ya.” Aku berjalan meninggalkannya dan dia
melambaikan tangannya untuk mengiringi kepergianku. Aku pun membalas
lambaiannya dengan senyuman.
***
Malam
ini cuaca begitu indah, bintang dan bulan yang hadir berdampingan dengan
sinarnya yang terus terpancar menemaniku. Aku tidak tahu, apakah aku bisa
menyaksikannya kembali. Aku seperti masuk dalam fikiranku sendiri, bergelut
dengan seribu pertanyaan yang ada difikiranku.
“
hayo… ngelamun saja kerjaanmu.” Suara itu memecahkan
lamunanku. Terlihat Rizal yang sudah duduk disampingku sambil
tersenyum nyengir yang membuatku kaget melihatnya.
“
kamu riz, aku kira setan. Habis senyum nyengirmu itu lho kayak hantu.” Kataku
sedikit menggoda sahabatku itu.
“
lihat bintang-bintang itu, terlihat terang.” Kataku dengan menunjukan
bintang-bintang itu pada Rizal.
“Riz,
aku pengen banget seperti bintang siriuz, didalam keadaan apapun tetap
bersinar. Sinarnya selalu terlihat terang, selalu memberikan harapan dan..”
suaraku berhenti dan sedikit menghela nafas dalam-dalam. Tiba-tiba Rizal
memotong pembicaraanku.
“
vio, tanpa perlu kamu jadi bintang. Kamu sudah menjadi bintang dalam kehidupan
kami, seandainya kamu mau pergi kamu akan tetap jadi bintang dihati kamu.” Kata
Rizal sembari menyunggingkan senyum tipis kepadaku. Suasana malam itu menjadi
redup seakan-akan Rizal tahu apa yang akan terjadi padaku.
***
“
kak, memangnya kita mau kemana?” tanyaku pada kak Adien yang sedang mengendari
motornya.
“
kamu pegangan saja ya, pasti kamu suka tempat ini.” Jawabnya tanpa sedikitpun
menjawab pertanyaanku. Berselang satu jam perjalan kita berdua berhenti
disebuah tempat yang begitu asing bagiku.
“
sini deh, ikut aku.” Ajaknya sembari memegang tanganku. Kami berjalan menyelusuri
jalan yang tak pernah ku kenal. Tiba-tiba mataku terhenti disalah satu danau
yang menarik berhatianku.
“
Taraaaaa…. Indah kan?” tanyanya dengan senyum yang mereka-reka. Aku hanya diam
menyaksikan keindahan itu. Aku tak percaya masih ada tempat seindah ini tapi apa aku
masih dapat melihatnya? Aku mulai terlibat pertanyaan dengan fikiranku
sendiri.
“
vio, kamu menangis?” pertanyaan itu memecahkan seribu pertanyaan yang ada
difikiranku.
“
aku bukannya menangis kak tapi aku hanya terharu, apa besok aku masih bisa
melihat danau ini lagi?” Aku terdiam sesaat dan melihat kearah kak Adien yang
dari tadi terus memperhatikanku.
“
kak, jika kakak tahu kapan kakak akan meninggal, apa yang akan kakak lakukan?”
lanjutku dan pertanyaan itu seperti membuat kak Adien terdiam untuk beberapa
saat.
“
kenapa kamu ngomong seolah-olah kamu akan pergi?” tanyanya kembali tanpa
menjawab pertanyaanku. Aku hanya terdiam dan menunduk dihadapannya.
“
oke, kalau kamu tidak mau menjawabnya. Jika aku tahu kapan aku akan pergi. Aku akan
melakukan sesuatu yang berarti untuk semuanya, untuk keluarga, orang-orang
sekeliling dan untuk diriku sendiri.” Jelasnya sembil berjalan mendekat kebibir
danau dan tersenyum lembut kearahku.
***
Kebersamaan
itu tak berhenti didanau itu. Kebersamaan itu terus berlanjut. Kami sering
berjalan berdua. Aku merasakan kenyamanan itu. Kami sering menghabiskan waktu
bersama di aula sekolah atau pun di danau itu. Sampai suatu hari sebelum acara
perpisahan itu berlangsung.
Sore
itu ditengah perjalanan kami berhenti didanau itu. Ada sesuatu hal yang
membuatku terkejut saat itu.
“
kak, kenapa tiba-tiba berhenti disini?” Tanyaku heran.
“
vio, aku tahu kita baru kenal tapi aku merasakan ada yang beda dari dirimu.
Kamu unik, senyum kamu selalu membuat aku merasakan kehangatan dan setiap
tingkah polahmu membuat aku tertawa. Aku suka dan aku sayang denganmu vio. Apa
kamu mau jadi kekasihku?” akupun langsung terdiam dan aku tak mampu menjawab
semua pernyataan yang terlontar dari bibir kak Adien.
“
iya aku tahu ini terlalu cepat tapi aku benar-benar takut akan kehilanganmu
vio.” Lanjutnya dan tiba-tiba dia menarik tubuh ini dan mendaratkanku di
tubuhnya.
Dia
memelukku dan dia tak henti-hentinya mengucapkan kata sayang itu padaku tapi
aku tak bisa menerimanya. Jika saja dia tahu yang sebenarnya. Apa dia masih mau
menerima gadis penderita leokimia seperti aku ini dan aku tak ingin membuatnya
menangis saat aku tinggalkan dia kelak dan aku juga tidak mau menambah daftar
orang yang aku sayang menangisi kepergianku nantinya.
“
kak, maaf aku tidak bisa.” Akupun segera melepaskan pelukkannya dariku dan
berlari meninggalkannya. Aku pun terus berlari dan tanpa sadar tiba-tiba darah
itu keluar lagi dari hidungku dan membautku tak sdarkan diri.
***
“
vio.. vio..” suara itu seperti aku kenal, suara itu terus memanggilku. Saat aku
tersadar aku sudah terbaring dirumah sakit.
“
ibu vio dimana?” tanyaku kepada ibuku yang duduk tepat di samping tempat aku
terbaring.
“
kamu ada dirumah sakit, kamu pingsan nak. Ibukan sudah pernah bilang, kamu jangan
sampai capek. Kondisimu dalam keadaan sakit.” Jelas ibuku dengan penuh air mata
yang keluar dari matanya. Wajah ayahku pun terlihat mendung. Kakak dan
sahabatku Rizal juga ada diruangan itu, wajah mereka bagaikan mendung yang akan
segera turun hujan.
“
ibu, vio boleh minta sesuatu?” pintaku pada ibuku.
“
iya nak, kamu mau minta apa?” jawab ibuku seraya melihat selintas kearah ayahku
yang berdiri disampingnya.
“
ibu hari ini ada acara perpisahan untuk kakak kelas vio dan vio ditunjuk untuk
mengisi acara disana. Ijinkan vio bu untuk terakhir kalinya memainkan biola vio
diacara perpisahan itu. Vio mohon bu.” Jelasku kepada ibuku yang tak kuasa lagi
membendung air matanya sambil melihat dan menggenggam tanganku.
“
tapi vio..” suara ibuku tiba-tiba dihentikan ayah ku yang sengaja memotong
benbicaraan ibuku.
“
iya vio, kami mengijinkanmu tapi ayah mohon kamu juga harus mengikuti apa yang
diprintahkan dokter marisa untuk kesehatanmu nak.” Kata ayahku seraya tersenyum
sendu menatapku. Aku hanya tersenyum mendengar perkataan ayahku dan
mengisaratkan jika aku setuju dengan apa yang dikatakannya.
***
Diaula
sekolah telah berjalan setengah acara untuk perpisahan kakak kelasku, semua
siap untuk melakukan bagian acara yang telah disusun satu minggu sebelum
pementasan.
“
din,, dimana vio? sebentar lagi giliran dia.” Tanya salah satu panitia kepada
kak Adien.
“
aku yakin dia tidak akan datang.” Jawab kak Adien dengan wajah yang mendung dan
penuh ketidak yakinan.
Citttttttt… suara
rem mobil ayahku terdengar melengking. Akupun segera keluar dari mobil dan
berlari sekuat tenaga untuk menuju aula.
“
vio hati-hati nak, nanti ayah dan ibu akan menyusul.” Teriak ibuku yang melihat
ku berlalu meninggalkannya dan melepasku dengan tangis yang kulihat dari
kejauhan sedang mengglayuti ibuku. Akupun membalas teriakkan ibuku dengan
lambaian tanganku dan sesungging senyum tipis untuknya.
“
kak Adien…” teriakku dari depan pintu belakang panggung. Serentak semua orang
yang ada disana langsung menoleh kearahku, terutama kak Adien. Dia segera
menghampiriku dan memelukku.
“
maafkan aku vio. Aku tak akan memaksamu.” Katanya dan pelukan itu semakin erat.
“
hemm.. iya kak, kakak jangan menangis dong. Aku tidak ingin menambah daftar
orang yang aku sayangi menangis karenaku.” Melepaskan pelukanya dan tersenyum
untuknya. Aku merasa ini kali terakhir aku dapat bertemu dan merasakan pelukan
dari kak Adien.
“
vio.. ayo naik panggung. Sekarang adalah giliranmu.” Kata seorang panitia panggung
kepadaku. Aku pun segera naik keatas panggung dan berlalu meninggalkan kak
Adien tanpa ada satu katapun terucap dari bibirku. Kak Adien pun terus melihat
kepergianku dengan mata yang menyorotkan seribu pertanyaan yang tersimpan dalam
fikirannya.
Hemmm.. menghela
nafas sejenak. Akupun mulai mengalunkan biolaku. Diatas panggung aku melihat
ibu dan ayahku berdiri perdampingan dengan kak Adien dan Rizal sahabatku. Semua
orang menikmati permainanku. Aku melihat senyum yang indah pada diri mereka.
Aku senang, aku gembira, sebelum kepergianku aku masih bisa membuat semua orang
tersenyum dengan permainan biolaku.
“
dia gadis yang hebat bukan?” Tanya Rizal kepada kak Adien. Segera kak Adien
melihat kearah Rizal yang berdiri disampingnya.
“
kamu siapa, kamu kenal vio?” Tanya kak Adien dengan memandang penasaran kearah
Rizal.
“
aku Rizal sahabat dari vio. Aku kenal dia sejak kami duduk dibangku SD.
Menurutku dia adalah gadis yang hebat dan kuat. Selama 7 tahun dia bertahan
hidup untuk dirinya dan orang-orang yang dia sayangi. Dia menderita kanker
darah, leokimia.” Serentak terlihat dari wajah kak Adien yang terkejut
mendengar apa yang dikatakan Rizal tentang diriku.
“ malam
itu vio cerita kepadaku, jika sejak 2 tahun yang lalu dia suka dengan seorang
pria, dia adalah kakak kelasnya sendiri, kak Adien.” Sambil melihat kearah kak
Adien.
“
Tapi dia takut untuk mencintainya, dia takut menambah daftar nama orang yang
dia syangi menangis karena kepergiannya nanti.
Mungkin
ini adalah puncak dia bertahan. Aku ikhlas melepas dia pergi. Dia akan jadi
bintang untuk semua orang yang pernah mengenal dia.” lanjut Rizal dan tiba-tiba
terlihat kak Adien menangis mendengar apa yang dikatakan Rizal.
Aku
terus melantunkan biolaku sampai aku berhenti dinada biola terakhirku. Semua orang
bertepuk tangan dan bersorak untukku. Ayah dan ibuku tersenyum padaku, tak
ketinggalan kak Adien yang melihatku dengan penuh perasaan yang seperti ingin
mendekat kearahku, aku melihat dia seperti menangis.
Aku
pun tersenyum tipis pada seluruh tamu yang hadir dan menyaksikan permainan
biolaku, lalu aku turun dari panggung tapi tiba-tiba mataku seperti rabun dan
kakiku tak sanggup aku gerakkan.
Tubuhku
terasa sakit dan darah itu keluar lagi dari hidungku. Aku terus berjalan dan
akhirnya aku tak sanggup lagi memopoh tubuhku turun dan mendekat kearah
keluargaku Prakkk…
“
vio.. vio… “
“
ayo bawa dia.”
“
vio bertahanlah nak.” Hanya suara-suara remang-remang yang dapat aku dengar dan
suara itu semakin tak terdengar lagi ditelingaku, suara itu hilang.
***
Sore
itu suasana terlihat mendung. Suasana wajah semua orang terlihat mendung
mengalahkan mendung disore itu.
“
suadah bu, ikhlaskan kepergian vio.” Kata ayah sembari merangkul pundak ibu.
“
maaf ibu dan ayah vio.” kata dokter marisa ditempat yang tak jauh dari ayah dan
ibu berdiri.
“
ini pesan terakhir yang vio tulis untuk kalian semua.” Sambil memberikan
secarik kertas kepada ibuku. Ibupun segera membuka surat itu dan membacanya.
Untuk
orang-orang yang aku sayang…..
Mungkin
saat kali membaca surat ini, aku sudah ada disurga bersama malaikat-
Malaikat
dan bidadari-bidadari surga.
Terimakasih
untuk semua dukungan kalian
Terutama
untukmu ibu
Kau
selalu melindungiku, kau juga yang membuatku bertahan sampai saat ini
Kau
selalu membuatku memiliki harapan saat aku takut akan kematian ini
Untuk
ayah
Jagalah
ibu untukku
Aku
mencintaimu, maafkan aku jika aku tak bisa membuatmu bangga akan diriku
Kakak…
Terimakasih
kau mau membagi ginjalmu untukku, jangan menangis
Aku
selalu ada dihatimu
Untukmu
sahabatku,
Terimakasih
untukmu, kau yang selalu mendengarkan keluh kesahku
Kau
juga bagian terindah dalam hidupku
Dan
untukmu kak Adien
Maafkan
aku yang telah membuatmu masuk dalam daftar orang yang
Menangis
karenaku. Aku tak ingin membuatmu menangis dan terluka
Terimakasih
kau telah memberikanku cinta sebelum aku pergi.
Jangang
menagis…
Jangan
menangis..
Aku
akan tetap hidup dihati kalian, aku akan tetap menjadi bintang dihati kalian
Aku
akan terus melantunkan nada untuk kalian.
Nada
biola ini akan terus mengiringi hari-hari kalian. ^_^

Komentar
Posting Komentar