Langsung ke konten utama

INDIGO HADIR KEMBALI

  Divisi Penerbitan Kampus UKM Fordimapelar UNTAG Surabaya merupakan divisi yang menampung kreativitas mahasiswa yang salah satunya telah menghadirkan mading dengan julukan INDIGO.


      INDIGO merupakan singkatan dari Informasi Fordi Go, dimana mading tersebut mengangkat artikel teraktual dan karya sastra terpopuler yang disajikan khusus untuk mahasiswa UNTAG Surabaya.

        Jum'at 3 Maret 2017, tim mading divisi penerbitan kampus yang terdiri dari Riska (Ilmu Komunikasi), Mega (Sastra Inggris), Dian (Psikologi), dan Angga (Teknik Industri) memulai eksekusi proses pembuatan INDIGO dengan artikel bertopik Bahaya Mencari Pacar di Media Sosial dan beberapa kumpulan puisi serta cerpen.

         Pada tahun ini, tim mading divisi penerbitan kampus menyebarluaskan karya madingnya sebagai bentuk eksistensi mahasiswa ilmiah di UKM Fordimapelar. Kini INDIGO dapat dilihat di papan mading tiap fakultas dan Graha Wiyata lantai dasar.

    "Sangat bangga dengan tim mading INDIGO yang telah menuangkan kreatifitas mereka, saya harap mading INDIGO akan terus bereksistensi di kampus merah putih ini dan menjadi mading terfavorit mahasiswa UNTAG Surabaya serta dapat dikenal secara eksternal pula" , tanggap Lala selaku Kadiv Penerbitan Kampus UKM Fordimapelar.






Komentar

  1. "Sangat bangga dengan tim mading INDIGO yang telah menuangkan kreatifitas mereka, saya harap mading INDIGO akan terus bereksistensi di kampus merah putih ini dan menjadi mading terfavorit mahasiswa UNTAG Surabaya serta dapat dikenal secara eksternal pula" , tanggap Lala selaku Kadiv Penerbitan Kampus UKM Fordimapelar.
    AMIN
    kpn nih ada seminar2 yg bertema media sosial?

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh boleh...
      ide yg bagus juga untuk membuat seminar ttg media sosial. nanti akan kami bicarakan dg divisi penerbitan kampus 😊
      terimakasih telah mengunjungi blog kami ☺

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

NADA BIOLA VIOLIN

Nada memiliki tangga nadanya, dari nada rendah hingga nada tinggi. Jika setiap nada itu tergabung dan teralun menjadi sebuah lirik yang mengalun dengan sentuhan syair yang mengiringinya, akan terbentuk nyanyian yang indah dan memiliki makna, tapi tiba-tiba nada itu berhenti. Nada itu tak lagi teralun dengan iringan biola dari tangan ini. Hanya tangis yang  terdengar sekarang ini. Tak ada lagi yang terlihat tersenyum dan tepuk tangan dari mereka. Isak tangis yang mengiringi dan kehawatiran yang tergambar dari raut wajah mereka. Sendu yang terpancar setiap detiknya, mendung yang selalu nampak bersama sang mentari dan redupnya bintang bersamaan dengan bulan yang hilang tertutup awan hitam yang melintasinya.   Aku ingin bisa berlari kembali, aku juga ingin bisa tersenyum bersama mereka dan mengalunkan nada biola ini bersama mereka *** Mendung masih terlihat disenja ini. Gemricik hujan pun masih mengiringi mentari yang tertutup oleh mendungn u...

Riau ku rindu

Mamakku rasa kita jauh dimata, Namun hati tak henti terkoneksikan layaknya wifi yang memiliki jaringan. Pulauku riau, yang tak bosanku rayuh dengan alam yang takkan pernah tergambarkan pada lukisan karya manusia. Darah riau yang mengalir pada diriku, menjadikan rindu ini akan ingin pulang. Mamakku, kita dipisahkan akan pulau yang menjadi pembatas pertemuan kontak fisik kita. Tak serayanya, kulupakan cium kening serta pelukan hangatmu. Kasihmu takkan terbendung dalam bentuk apapun setelah welas kasih dan kasih sayang sang pencipta yang menakdirkanku pada kandunganmu. Cintamu sunggu mulia, karna ikatan dunia yang mempertemukan kita. Ku meninggalkan Riauku untuk perjuanganku. Tanah Jawa menjadi pelarianku pada sebuah takdir yang sudah diutusnya. Mamak, semangatku layak soekarno junior pada diriku. Engkau adalah sekian alasan ku mengejar pendidikan pada kehidupanku. Setelah ku pandai pada hakekat hidupku, mamakku, kuakan pulang dengan merubah jubah para kaum peni...