Langsung ke konten utama

Kapitalis Nusantara




Tangisan Bumi Pertiwi  Kulihat ibu pertiwi,

Sedang bersusah hati Air matamu berlinang,

Mas intanmu terkenang Hutan gunung sawah lautan,

Simpanan kekayaan Kini ibu sedang lara,

Merintih dan berdoa Kulihat ibu pertiwi,

Kami datang berbakti  Lihatlah putra-putrimu,

Menggembirakan ibu Ibu kami tetap cinta,

Putramu yang setia Menjaga harta pusaka,

 Untuk nusa dan bangsa   Sebuah lirik lagu tentang bumi pertiwi ini mungkin bisa di jadikan sebuah jawaban atau gambaran yang terjadi di alam indonesia . 

  Lagu yang populer di tahun 1950-1960 yang biasanya di nyanyikan di sekolah-sekolah dasar ,menceritakan sebuah Negara yang kaya raya dan makmur tapi tidak bisa mensejahterkan rakyatnya sehingga bumi pertiwi menangis dan berdoa. 

  Gambaran dalam lagu ini sama persis dengan gambaran indonesia pada  saat ini. Di mana indonesia yang biasa kita dengar dengan sebutan “jannatun dunya “ atau surganya dunia.

  Dengan memilki sumber daya alam yang melimpah seperti keanekaragaman hayati, minyak dan gas bumi hingga keindahan panorama alam tropis yang eksotis yang tersebar di sela-sela wilayah indonesia.  

  Secara Logika ketika sebuah Negara memiliki sumber daya alam yang tumpah ruah baik di darat maupun di laut maka rakyat negara tersebut akan hidup makmur dan sejahtera. 

  Namun,  dewasa ini yang terjadi di Indonesia malah berbanding terbalik dengan kenyataan berlimpah ruahnya kekakayaan indonesia.

  Ironi memang ketika sebuah Negara yang kaya raya namun pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alamnya belum berorientasi pada kepentingan masyarakat.

  Di suatu sisi eksploitasi sangat tinggi namun di sisi lain terlihat bahwa eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam hanya di nikamti  kaum kapitalis atau pemilik modal.

Perampokan sumber daya alam dalam masa penjajahan yang di lakukan oleh kaum imperialis secara paksa dan terang-terangan kini di lakukan dengan cara yang amat cerdik dengan modus-modus operandi yang berbeda.  
Cara yang di lakukan mereka untuk menguras sumber daya alam cukup simple dengan menyebak indonesia dalam lilitan utang yang tiada henti bahkan cenderung berlebihan. 
Kondisi ini di perparah dengan kebijakan-kebijakan penguasa yang terus memberikan peluang kepada asing untuk menguasai kekayaan alam Indonesia.
Kebijakan –kebijakan para penguasa dengan bekerja sama dengan pengusaha asing (MNC/ multinasional corporation) maupun lokal sudah tidak sesuai dengan konstitusi UUD 1945 dalam pasal 33.  
Mereka menggunakan kekuatan financial dan politis untuk mempertahankan kekuatan eksploitasi terhadap sumber daya alam yang di miliki indonesia yang seharusnya di kelola secara mandiri dan untuk kepentingan dan kemakmuran dan kemandirian rakyat seperti yang di gagas oleh pendiri bangsa.
 Sejak zaman orde baru di mana di mulainya penghacuran terhadap SDA indonesia sampai era yang yang paling baru atau bisa kita sebut dengan era reformasi, daerah yang memiliki SDA melimpah tidak identik dengan pendapatnya masyarkat yang tinggi, kemajuan dan peradaban masyarkat. 
Kita bisa coba melihat daerah-daerah yang tergolong dengan sumber daya alam yang melimpah ruah seperti papua, aceh, kalimantan masih berputar –putar dalam masalah social ekonomi dan pembangunan lainnya. 
Secara garis besar  permasalahan itu terefleksi pada tingkat perputaran uang yang rendah dan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi. Kondisi ironis di atas sudah mencerminkan bahwa pengolahn sumber daya alam tidal lagi berorientas pada kepentinga masyarakat.

  Eksploitasi kekayaan alam indonesia hanya menjadi kepentingan para elit penguasa , pengusaha baik dari dalal maupun luar negeri yang hanya ingin menghisap kekayaan alam di bumi pertiwi. Sedangkan para penghuninya ibaratkan ayam yang mati di lumbung padi.

#(Doaul Husni A)






Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

NADA BIOLA VIOLIN

Nada memiliki tangga nadanya, dari nada rendah hingga nada tinggi. Jika setiap nada itu tergabung dan teralun menjadi sebuah lirik yang mengalun dengan sentuhan syair yang mengiringinya, akan terbentuk nyanyian yang indah dan memiliki makna, tapi tiba-tiba nada itu berhenti. Nada itu tak lagi teralun dengan iringan biola dari tangan ini. Hanya tangis yang  terdengar sekarang ini. Tak ada lagi yang terlihat tersenyum dan tepuk tangan dari mereka. Isak tangis yang mengiringi dan kehawatiran yang tergambar dari raut wajah mereka. Sendu yang terpancar setiap detiknya, mendung yang selalu nampak bersama sang mentari dan redupnya bintang bersamaan dengan bulan yang hilang tertutup awan hitam yang melintasinya.   Aku ingin bisa berlari kembali, aku juga ingin bisa tersenyum bersama mereka dan mengalunkan nada biola ini bersama mereka *** Mendung masih terlihat disenja ini. Gemricik hujan pun masih mengiringi mentari yang tertutup oleh mendungn u...

Riau ku rindu

Mamakku rasa kita jauh dimata, Namun hati tak henti terkoneksikan layaknya wifi yang memiliki jaringan. Pulauku riau, yang tak bosanku rayuh dengan alam yang takkan pernah tergambarkan pada lukisan karya manusia. Darah riau yang mengalir pada diriku, menjadikan rindu ini akan ingin pulang. Mamakku, kita dipisahkan akan pulau yang menjadi pembatas pertemuan kontak fisik kita. Tak serayanya, kulupakan cium kening serta pelukan hangatmu. Kasihmu takkan terbendung dalam bentuk apapun setelah welas kasih dan kasih sayang sang pencipta yang menakdirkanku pada kandunganmu. Cintamu sunggu mulia, karna ikatan dunia yang mempertemukan kita. Ku meninggalkan Riauku untuk perjuanganku. Tanah Jawa menjadi pelarianku pada sebuah takdir yang sudah diutusnya. Mamak, semangatku layak soekarno junior pada diriku. Engkau adalah sekian alasan ku mengejar pendidikan pada kehidupanku. Setelah ku pandai pada hakekat hidupku, mamakku, kuakan pulang dengan merubah jubah para kaum peni...

INDIGO HADIR KEMBALI

  D ivisi Penerbitan Kampus UKM Fordimapelar UNTAG Surabaya merupakan divisi yang menampung kreativitas mahasiswa yang salah satunya telah menghadirkan mading dengan julukan INDIGO.       INDIGO merupakan singkatan dari Informasi Fordi Go , dimana mading tersebut mengangkat artikel teraktual dan karya sastra terpopuler yang disajikan khusus untuk mahasiswa UNTAG Surabaya.         Jum'at 3 Maret 2017,  tim mading divisi penerbitan kampus yang terdiri dari Riska (Ilmu Komunikasi), Mega (Sastra Inggris), Dian (Psikologi), dan Angga (Teknik Industri) memulai eksekusi proses pembuatan INDIGO dengan artikel bertopik Bahaya Mencari Pacar di Media Sosial dan beberapa kumpulan puisi serta cerpen.          Pada tahun ini, tim mading divisi penerbitan kampus menyebarluaskan karya madingnya sebagai bentuk eksistensi mahasiswa ilmiah di UKM Fordimapelar. Kini INDIGO dapat dilihat di papan mading tiap fakultas dan Gra...